Search it here

Tampilkan postingan dengan label Tugas Akhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Akhir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2012

3 kali Pendadaran?? Siapa kapok???

Oke, catatan hari ini mungkin akan menyemangati anda-anda yang sedang bergelut dengan tugas akhir atau skripsi atau mungkin juga tugas kantor yang terimpit oleh dateline yang menggerus kesabaran, konsentrasi dan emosi. Tapi jangan sampai justru sebaliknya ya :D

Pendadaran atau ujian meja atau ujian akhir skripsi merupakan suatu keadaan yang penuh ketegangan, ketakutan dan trauma akan pembantaian masal (santai bero, bukan pembunuhan fisik tapi mental) terhadap korban sebut saja bunga mawar atau bunga melati a.k.a mahasiswa yang mempresentasikan hasil jerih payahnya selama beberapa bulan atau mungkin tahun atau bahkan kalau beruntung hanya beberapa minggu seperti yang pernah saya lakukan pada pendadaran pertamaku di hadapan sekelompok dosen penguji yang mungkin lebih mirip penjagal di rumah-rumah potong hewan di mata korbannya :D. Biasanya, mahasiswa tingkat akhir akan mati-matian berusaha untuk melalui fase ini -pendadaran- dalam sekali tampil. Namun kadang tak jarang yang harus kembali menghadapi kumpulan dosen berparas mr. sattan atau inspektur vijay untuk kedua kalinya karena berbagai alasan akademik, entah si mahasiswa terlihat gugup sampai lupa bahan skripsinya, salah mutar presentasi, salah nganalisis data, salah menggunakan metode penellitian, penelitian atau tema yang diangkat sudah pernah ada sebelumnya, dugaan plagiasme, sampai kepada mood dosen penguji yang sedang tidak baik.
Segala usaha pasti akan kita upayakan agar keadaan seperti ini hanya kita lalui satu kali seumur hidup. Tapi setiap usaha pasti ada kemungkinan untuk gagal bukan? dan setiap kali gagal  kita harus bisa bangkit kembali. Begitu kata orang-orang bijak terdahulu.

Sebagaimana telah saya ceritakan sebelumnya, sekitar 5 atau 6 bulan yang lalu langkah pertama untuk menyelesaikan studiku yang amburadur ini kumulai. Pada percobaan pertama, kepercayaan diriku membucah ketika tema skripsi dengan judul ke-5 ini akhirnya di ACC oleh dosen pembimbingku untuk segera kupertahankan di depan 3 dosen penguji yang lumayan mengenalku bukan karena citraku yang cerdas melainkan sepak terjangku yang terlalu lama di kampus ini. Namun sayang seribu sayang usaha pertamaku ini hanya berakhir sampai periode dimana aku selesai mempresentasikan hasil penelitianku. Proses tanya jawab yang seharusnya terjadi setelah presentasiku terhenti oleh pertanyaan dan pernyataan bahwa apa yang kukerjakan ini sudah pernah ada yang membahasnya sebelumnya.

Selanjutnya, usaha dan perhatianku kupusatkan untuk mencari tau wujud skripsi yang menjadi batu sandungan besar dalam perjalanan penyelesaian studyku yang amburadur ini. Bolak-balik perpustakaan FMIPA UGM kulakoni berminggu-minggu ditengah sengatan terik matahari yang semakin lama semakin menyengat di langit jogja, mencari jejak nama penulis skripsi tersebut di media sosial, baik milis yahoo, facebook untuk mencari tahu kontak yang bersangkutan guna mengonfirmasi bagian mana yang menjadi kesamaan dari skirpsi yang kami tulis, namun semuanya tidak membuahkan hasil apapun untuk perkembangan revisiku saat itu. Mutung, menjadi langkah lanjutan sebagai akibat dari usahaku yang tidak membuahkan hasil.


Semangatku kembali bergejolak ketika periode wisuda mei telah terlewati. Jari-jemariku kembali bersemangat mengetikan kalimat-kalimat di Bab-bab tugas akhirku hingga dalam waktu 3 minggu segalanya terselesaikan dengan tambahan satu metode baru dalam skripsiku. Namun, karena kecerobohanku dan keterburu-buruanku, aku sampai lupa untuk memastikan apakah metode tambahan ini juga belum masuk kedalam skripsi yang dinyatakan sama tersebut ke dosen yang mengkritiku saat ujian pertama. Alhasil, di ujian pendadaran kedua, aku hanya sempat menjelaskan 1/3 isi presentasiku hingga sampai forum itu dibubarkan dengan kesimpulan aku harus kembali mengulanginya lagi.


Saat itu juga batinku mulai berkata," jangan sampai ini menghentikan usaha seriusku untuk lulus tahun ini". Selepas para dosen penguji dan pembimbingku meninggalkan ruangan, aku bergegas mengejar dan menghampiri dosen yang menyatakan bahwa teoriku sudah pernah di bahas dan ada di diktat kuliah yang dibuatnya, untuk meminta saran apa yang sebaiknya kulakukan untuk mengatasi masalah ini dengan tidak harus mengganti tema yang berarti mengulang lagi semua tahap dari awal. Langkah yang seharusnya ku lakukan sejak percobaan pertama gagal. Akhirnya solusi kuperoleh dengan memasukan 2 metode baru kedalam apa yang sudah kuselesaikan sebelumnya dan membandingkan ke-empat metode berbeda tersebut. Tiga minggu waktu yang cukup untuk menyelesaikan skripsi ini.

Setelah merasa cukup yakin dengan apa yang kulakukan, akhirnya tanggal 14 agustus 2012 menjadi tanggal ke-3 dimana aku harus mempertahankan hasil kerjaku di hadapan 3 dosen penguji yang susunannya telah berganti karena salah satu dosen harus ke Australia mengunjungi istrinya dan yang satunya sepertinya sudah mudik ke jawa barat (inget sekarang lagi bulan Ramadhan).

Pagi itu, kuberangkat dengan jalan kaki dari kos-kosanku yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari kampus dengan penuh semangat dan tidak membawa bala bantuan untuk menyaksikanku dibantai pagi ini. Sesampaiku di kampus,kakiku langsung kulangkahkan menaiki anak-anak tangga yang sudah sangat sering melihatku naik-turun gedung berlantai 3 ini. Ruang sekertariat Prodi menjadi tujuanku untuk memastikan ruangan mana yang akan kupakai untuk ujian kali ini. Tak satupun dosen penguji hadir lebih awal, aku harus menunggu 20 menit untuk masuk ke dalam ruangan dan memulai presentasiku. Berjajar dari kiri ke kanan, di hadapanku sudah duduk 3 dosen penguji secara berturut-turut, ibu dosen muda yang karakternya belum kuketahui cukup banyak karena hanya sekali mengambil mata kuliah yang diampunya, di susul Kepala Program Studi Statistika saat ini yang sudah diketahui reputasinya sebagai salah satu dosen yang lumayan usil dalam mendadar mahasiswa, yang juga merupakan dosen yang menyarankanku untuk segera mendaftarkan diri di ujian ke-2, dan terakhir sosok dosen senior bersahaja yang merupakan dosen pembimbing akademikku. Dari ketiga dosen itu, hanya dosen kedua lah yang menurutku cukup memahami isi dari skripsiku, sedangkan 2 lainnya memiliki minat yang berbeda.

Presentasiku berlangsung 20 menit, dan  langsung di sambut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku tidak selayaknya lagi dipertanyakan karena sudah jelas ku paparkan dalam BAB IV dari skripsiku dan kusimpulkan di BAB V. Namun karena ini pendadaran maka mau-tidak mau semua pertanyaan kujelaskan juga, meskipun ada beberapa yang tidak mengundang kepuasan dari dosen yang menanyakannya. Sesi tanya jawab hanya berlangsung sekitar 40 menit yang berarti pendadaranku hari ini hanya memakan waktu 1 jam dari 2 jam yang disediakan. Kemudian ketiga dosen memintaku untuk meninggalkan ruangan sejenak untuk berunding mengenai status kelulusanku berdasarkan ujian pendadaran yang baru saja  kulakukan. Tak sampai 5 menit, aku sudah diperbolehkan kembali memasuki ruangan dan langsung mendengarkan kata yang memang sudah kuprediksi " Mas, gempur.. setelah memperhatikan presentasi anda, kami selaku dosen penguji menyatakan anda LULUS dengan perbaikan dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab." kata dosen pembimbing akademikku. "alhamdulillah, terima kasih pak" sahutku.

Oke, akhirnya  perjalananku di Statistika UGM berakhir hari ini. Alhamdulillah.. alhamdulillah.. alhamdulillah.

Jumat, 07 September 2012

Mahasiswa Ambang Batas

Kalau ditanya pengen lulus gag sih?? tentu saja jawabannya iya. Namun, jangan pernah tanya kapan kata lulus itu akan dicapai.

Semester ini adalah semester keempat dimana Tugas Akhir mengisi salah satu baris  di KRS-ku, dan sangat besar harapanku untuk segera mengakhirinya semester ini  juga.  Ntah kenapa kuliahku di salah satu Universitas  ternama ini tak kunjung selesai, padahal prestasi belajarku tidak jelek-jelek amat. Dibilang mengeluh, ya saya  mengeluh, walaupun banyak sekali petuah-petuah yang melarang untuk mengeluh, tapi itu manusiawi bukan??

Semester ini sempat membawa angin segar ketika tema yang cukup mudah, dan memang saya memutuskan untuk mengambil tema yang mudah-mudah saja untuk ku bahas sebagai tugas akhir, telah kutemukan dan selesai kususun dalam 3 minggu. Bayangkan, dalam 3 minggu Tugas Akhirku selesai. Melihat kerja kerasku yang benar-benar serius untuk setidaknya membuat ibu-bapak ku bisa berhenti memberikan penjelasan kepada tetangga ketika pertanyaan, “si gempur udah lulus  belum??” terlempar dari lisan-lisan mereka ada kebahagiaan yang sempat menyinggahi lubuk hatiku, “aah… akhirnya bisa segera menyelesaikan studi yang alot ini”


Sampai saat kuputuskan untuk menghubungi Dosen Pembimbing Tugas Akhir melalui SMS untuk  mengatur jadual pertemuan untuk membicarakan tema Tugas Akhirku yang  berujung tidak dibalasnya SMS ku. Awalnya sedikit kecewa karena SMS untuk mengatur jadual pertemuan tidak mendapat respon dari Dosen Pembimbing kedua setelah kuputuskan mengganti dosen di semester ke-3 kumengambil Tugas Akhir, namun semangat tuk mengejar Wisuda Sarjana bulan November 2011 semakin mendorongku untuk menemukan jalan keluar, hingga akhirnya kuputuskan untuk menemui sang dosen di ruangannya secara langsung pada pagi hari dengan berbekal bahwa beliau ada jadual mengajar siang harinya. Dan Alhamdulillah, berhasil bertemu.

Pagi itu adalah pagi kedua saya memasuki ruangan kantor salah satu dosen yang cukup senior di kampusku itu, setelah sebelumnya beliau sempat bingung akan status kemahasiswaanku. “hm.. mahasiswa S2 mas??” begitu katanya ketika melihatku memasuki ruangannya seminggu yang lalu. hmm,, rupanya studi yang melelahkan ini telah menguras ketampananku.

Kusodorkan juga draft Tugas Akhirku kepadanya, dan beliau cukup kaget ketika melihat draft iu sudah lengkap dari BAB I sampai BAB V, mengingat seminggu sebelumnya hanya BAB I yang ku serahkan sebagai bahan pertimbangan beliau mengenai temaku. Batinku mulai melafalkan bernagai do’a dan harapan agar draft tersebut di ACC dan dibolehkan untuk lanjut ke tahap Ujian Pendadaran yang begitu meneganggang menurut versi teman-temanku  yang sudah berhasil melaluinya. Badanku tegap di seberang meja dimana sang Dosen  duduk, dan beliau mempersilahkanku untuk duduk, karena katanya beliu hendak membaca dahulu isi draft-ku. Kursi tamu di ruangan itu menjadi saksi betapa tegangnya diriku menghadapi hari itu dan bertambah tegang ketika akhirnya sebaris kalimat pertanyaan terucap dari lisan dosenku.

Ya, seperti yang sudah dikatakan teman-temanku. Bapaknya akan menanyakan hal yang cukup abstrak untuk dimengerti oleh mahasiswa yang ditanya olehnya. ‘tenang pur..tenang..’ begitulah batinku berkata ketika mendengar kalimat yang kucoba pahami dari sudut pandang yang sederhana untuk selanjutnya kujawab dan kujelaskan sesuai yang ku ketahui dari buku-buku yang kujadikan pedoman penyusunan Tugas Akhir ini.

“Bukan..bukan begitu maksud saya…” kalimat itu tiba-tiba meruntuhkan kepercayaan diriku yang dengan susah payah kubangun pagi itu. kembali lagi aku mencoba menjelaskan dengan bahasa yang sederhana yang memang dituntut oleh sang dosen, namun tak kunjung bisa memuaskan pertanyaan dari beliau. sampai akhirnya sedikit gaduh, ketika saya sedang berusaha menjawab, bapakny juga kembali bertanya disaat yang bersamaan. Beruntung, sekali lagi dengan menggunakan apa yang kudengar dari teman-temanku bahwa kata ‘Ya Pak!’ adalah senjata ampuh untuk mengakhiri kemelut pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh sang dosen.

Sampai akhirnya hatiku takluk juga ketiga beliau berkata, apa yang kulakukan untuk Tugas Akhirku adalah SALAH! dari segi metode maupun cara penyelesaian permasalahan yang kuangkat sebagai tema. Kecewa?? ya, tentu saja. Siapa orang di dunia ini yang tidak kecewa ketika hasil kerja kerasnya dinyatakan SALAH?!


Pertemuan itu adalah pertemuan terakhirkku dengan sang dosen untuk membahas Tugas Akhirku yang kemudian mengubur harapanaku untuk Wisuda pada bulan November 2011, karena setelahnya kuputuskan untuk menenangkan hatiku selama seminggu dan kemudian memutuskan untuk menemui sang dosen kembali. Namun, ketika hatiku sudah siap, beliau harus dirawat inapkan di Rumah Sakit selama beberapa hari dan bed rest beberapa minggu di rumah karena penyakit darah tinggi nya menyerang. begitu yang kudengar.

Dan sampai saat ini belum ada perkembangan terbaru mengenai masa depan tugas akhirku dan status S.Si yang akan menempel di namaku. Sangat besar harapanku untuk menyelesaikannya bulan ini,mengingat kejenuhan yang mulai menggerogoti semangatku.


rebloged from : gesaf.wordpress.com on nov 14th

Minggu, 12 Agustus 2012

Puasa, Kesurupan dan Skripsi!!

Ya, gak ada hubungannya. Memang belum ada penelitian yang menyatakan seberapa kuat atau seberapa besar korelasi antara ketiga hal random tersebut. Hehehhe. Tapi just to know aje hal ini merupakan paket kombo yang saya alami hari ini 6 Agustus 2012.

Seperti biasa setelah sahur langsung tepar tak berdaya dikarenakan siklus tidur yang sudah di ambang batas kehancuran organ-organ dalam tubuh. Kantukku masih dominan menguasai alam sadarku ketika kuputuskan membangkitkan diri sekitar pukul 9 pagi dan segera menge-print draft tugas akhir yang rencananya akan kuperlihatkan ke dosen pengganti yang ditunjuk langsung oleh ketua dosen pengujiku ketika kuperlihatkan revisi metode  baru yang akan kupakai dalam skripsiku. Fotokopi terdekat dengan kos menjadi tempat andalan untuk mengeprint dokumen2 yang jumlahnya banyak. Karena berpikir proses pengeprint-an tidak akan lama maka handphone kutinggalkan di kamar karena toh siapa juga gerangan yang akan menghubungi sepagi ini di bulan Ramadhan (ya gak cuy??). Benar, print berlangsung hanya sekitar 15 menit; namun tidak benar karena ternyata di layar hape NOKIA 1650 bututku tertera 2 panggilan tak terjawab dari sodara sepupuku yang notabene sempat menitipkan anak pertamanya untuk melanjutkan sekolahnya di Jogjakarta bersamaku (tapi sekarang anaknya sudah tinggal sendiri di daerah ringroad barat dekat UMY). Jari-jari seksiku langsung saja mengetikan SMS dan mengirimkannya dengan tujuan menanyakan ada perihal penting apa sampai harus meneleponku di pagi hari. Berselang tidak lebih dari 5 menit HP ku kembali berbunyi, nada dering yang ku setel ku biarkan berdering hampir selesai dengan tujuan memastikan itu panggilan telepon atau hanya missed call yang tak sengaja terjadi (biasa kan kayak gini, saat hape masuk saku hapenya manggil2 orang lain sendirian).

Singkat kata singkat cerita dia meminta kesediaanku untuk menengok keadaan anaknya yang kata teman kos-nya sedang sakit dan cek per cek sakitnya bukan sakit biasa melainkan kesurupan. ya.. anda tidak salah membaca dan saya tidak salah mengetik. Ponakanku kesurupan di siang bolong di bulan Ramadhan. Alhasil rencanaku yang semula berdandan untuk menemui dosen jadi berubah dengan mengajak teman sekosan untuk melajukan kendaraan bermotornya menuju kos-kosan ponakanku itu bermodal alamat Masjid Al Mubaraq 100 meter sebelah utara kampus UMY.

Melajulah aku bersama salah satu teman kos yang beruntungnya pagi ini sudah bangun dan sedang tidak ada rencana penting yang akan dilakukan beberapa jam kedepan. Matahari sudah mulai terik ketika kami mengitari jalan-jalan sempit yogyakarta yang mulai ramai oleh kendaraan-kendaraan pendatang yang betah di jogja. Kurang lebih 31 menit kami habiskan menempuh perjalanan dadakan di pagi jelang siang ini.

Sesampainya kami di TKP, jam sudah menunjukkan pukul 10 nyaris 11 pagi. Ketika kami memasuki wilayah kos tempat ponakanku di ruqiyah tidak terdengar teriakan-teriakan khas orang kerasukan. Hening, hanya lantunan ayat-ayat suci Al-Qur;an yang terdengar semakin jelas ketika kami akhirnya memasuki ruang tamu kontrakan berkamar 5 itu. Sekilas di benakku berpikir ponakanku sudah sadar, jin yang mengambil alih kontrol motoriknya telah berhasil ditaklukan oleh lantunan ayat-ayat ruqiyah yang dengan teguh dilantunkan oleh teman-teman kosnya. Namun semua rencana yang tersusun termasuk akan menemaninya terbang ke Jakarta sore nanti untuk menemui kedua orang tuanya sebagaimana pesan tambahan di panggilan telepon yang mengantarku kesini menjadi buyar begitu kotengokan kepalaku ke dalam kamar di mana sumber lantunan ayat-ayat suci Al-Quran itu berasal. Ya, ternyata dia terbujur tidak begitu kaku. Dia terbaring dengan kondisi yang cukup memiriskan hati, tanpa baju; hanya sarung bekas sholat subuh lah yang menutupi badan bagian bawahnya. Alunan ayat-ayat suci terus terdengar, namun langkahku tak kunjung tergerak untuk memasuki kamar yang berisi 3 orang tersebut, 4 termasuk ponakanku. Seorang teguh memegangi  kedua tangannya, serta sesekali memijat-mijat kakinya, dan 2 lainnya melantunkan ayat-ayat suci di bagian atas tubuhnya. Si jin yang kemudian mengaku sebagai jin Ifrid masih teguh bersarang di tubuh ceking ponakanku.

Beberapa menit kuhabiskan di depan kamar di mana ponakanku diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk menanyakan berbagai hal yang kuanggap perlu, termasuk kronologi sampai dia yang notabene mungkin taraf ibadahnya lebih baik dariku bisa dirasuki jin di bulan Ramadhan ini. Setelah informasi yang kuinginkan kurasa cukup (tentu juga keberanian untuk menghadapi ponakankku yang tengah kesurupan juga cukup), akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam kamar itu untu bertegur sapa dengan ponakanku.

"Subhanallah ayahku ya....." itulah kata pertama dari mulutnya yang lemah ketika kuputuskan untuk duduk di sisi tubuhnya yang terbaring di atas kasur. "Eh mas gempur, mas Dino??!" lanjutnya. Alhamdulillah ponakanku sadar batinku berkata. Kemudian kuputuskan untuk menegurnya dan bermaksud mengorek informasi yang kurasa butuh untuk kuketahui, tapi belum sempat kuutarakan maksudku kesadarannya kembali terenggut oleh jin yang merasukinya. Tubuhnya kembali bergejolak. Tampak usaha kerasnya untuk melawan kekuatan yang mencoba mengambil alih kontrol atas tubuhnya, tapi semuanya berakhir kekalahan di pihaknya yang memang dalam keadaan lemah sebab penyakit malaria yang menyerangnya beberapa hari sebelumnya. Meskipun alunan ayat-ayat suci tak kunjung terhenti di kamar itu, tapi dia tetap bertekuk lutut di bawah kendali makhluk astral itu. Hingga akhrinya teman kos yang ternyata tidak percuma ku ajak untuk mengantarku ikut membantu dengna membimbingnya untuk melafadzkan tiga kul yang terkenal yaitu surah Al Ikhlas, Al falaq dan An Nas. Tapi belum selesai ponakanku melafadzkan ketiganya si jin sudah berhasil mengambilalih. Mulai saat itulah usaha menyadarkannya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terus kami lakukan walapun belum memberi perubahan yang signifikan.

Usaha itu terus dilakukan sampai pukul 14.00 siang, dan karena jadualku hari ini adalah menyetor perkembangan perubahan isi skripsiku maka aku memutuskan untuk meninggalkan sejenak ponakanku yang sedang bergelut dengan makhluk astral itu. Dan tentu saja sebelumnya meminta izin dari ayahnya yang telah kusarankan untuk segera ke Jogja karena sangat tidak memungkinkan untukku membawanya terbang ke Jakarta sore ini.

Perjalananku siang ini kembali dimulai dengan mengulangi jalur datangku kesini. Membelah teriknya mentari siang hari di Jogjakarta, motor dilajukan menyusuri jalan-jalan kota Jogjakarta yang ramai oleh kendaraan lalu lalang para pegawai yang baru pulang makan siang, orang tua yang baru menjemput anak-anaknya pulang sekolah dan tentu saja para pencari nafkah yang menjajakan komoditas andalan masing-masing baik dari dalam toko masing-masing maupun mereka yang menggelar dagangan temporal untuk merebut rezeki di bulan Ramadhan.

Jam di jam tangan seharga Rp. 25.000 yang melekat di tangan kiriku menunjukkan pukul 14.40 ketika rombonganku beranggotakan 2 orang termasuk aku tiba di gerbang selatan FMIPA Utara. Langsung saja aku turun dari ojeg dadakan pagi ini dan memintanya untuk menunggu beberapa menit karena aku beranggapan cukup memperlihatkan hasil revisi dan aku akan segera diperbolehkan untuk mendaftar untuk ke-tiga kalinya guna mengikuti pendadaran ulang. Tapi ternyata sekali lagi prediksiku pagi ini meleset.

Begitu turun dari motor yang diiringi celotehan pengendaranya yang sepertinya tidak akan betah menungguku, langkahku langsung kugerakkan menaiki anak tangga darurat yang kebetulan berdekatan dengan pintu yang kujadikan akses masuk ke gedung dimana ruangan dosen yang kutuju berada. Napasku masih beradu seiring detak jantung yang semakin cepat ketika aku sampai di depan ruangan sang dosen sembari menanyakan keberadaannya kepada pegawai tata usaha yang sudah sangat akrab sekali denganku karena urusan pendadaran ini. "assalamu 'alaikum" seruku begitu kutengokan kepalaku kedalam ruangan yang bersambut dengan sahutan "wa'alaikum salam.. piye mas???" dari sang dosen disertai langkah kakiku sesuai irama detakan jantung yang tak beraturan hasil dari naik tangga darurat memasuki ruangan dimana pak dosen sedang sibuk menyortir piagam-piagam penghargaan yang dimilikinya di atas meja kerja.

Oke, sepertinya temanku itu akan benar-benar bosan menungguku, menyusul pertanyaan-pertanyaan yang dengan indahnya dilontarkan oleh sang dosen. "Gimana?? gimana??" serunya ketika aku duduk di hadapannya sembari mengeluarkan draft skripsiku dari tas kecilku. " jadi gini pak, kemarin saya sudah ketemu pak dedi dan beliau setuju dengan metode yang saya tambahkan" seruku sembari menyodorkan draft-ku. Dibolak-baliknya susunan kertas-kertas berisi rangkaian kata-kata karanganku yang dilengkapi dengan kombinasi angka-angka tidak terkira dan materi-materi hasil copy-paste di BAB II. Saking sibuknya menjawab pertanyaan sang dosen aku sampai lupa ada seseorang yang sedang menungguku di bawah sana. Oke, penjelasan pertamanku masih mengundang tanya lanjutan. Percobaan kedua sang dosen masih belum paham dan yakin bahwa saya siap untuk di "dadar". Hingga percobaan ketika beliau meminta saya untuk menggoreskan tulisan tanganku yang mulai acak-kadut karena saking lama tidak menulis dengan tangan atau mencatat bahan kuliah di kelas; di atas kertas untuk menggambarkan secara sederhana apa yang menjadi tujuan dari skripsiku ini. Hingga akhirnya beliau paham.

"Yakin kan? yasudah.. besok kumpul aja draftnya sama pak tri biar bisa pendadaran" itulah kalimat yang sebenarnya ingin kudengarkan sejak 10 menit yang lalu. Hatiku berucap hamdalah seraya berucap terimakasih dan segera meninggalkan ruangan itu mengingat ada orang yang sedang menunggu di bawah sana. "Ngumpulnya besok aja deh, skalian minta tanda tangan dosen pembimbing" gumamku dalam hati. Mungkin inilah berkah kecil Ramadhan buatku.

Langkahku panjang dan cepat menuju tangga turun dan segera menuju tempat di mana temanku sedang menunggu. dan eng ing eng...orangya sudah tidak ada. Sejenak kuberpikir dia sedang berputar-putar kampusku sembari menungguku menghubunginya. tetapi apa lacur, aku teringat bahwa HPnya lowbat. Argh.....haru jalan kaki deh kalau begini ceritanya. jam menunjukan pukul 3 siang, dan mentari di atas langit jogja hari ini tersenyum cerah tapi tidak ramah untuk kulitku yang eksotis ini. Tapi apa mau dikata, ojeg dadakan tidak sabar menunggu, jalan kaki dehhhh...




Kamis, 05 Juli 2012

AYO ke Perpustakaan!!

Postingan ini bukan berisi ajakan ke perpustakaan, BUKAN!.

Berawal dari kemalasan menghabiskan waktu dikos-kosan yang kian menjenuhkan, akhirnya kuputuskan untuk mandi dan melangkahkan kaki sejauh mungkin, dan kali ini sasarannya adalah Perpustakaan FMIPA UGM dengan tujuan sih untuk menyelesaikan pengerjaan studi kasus Skripsi yang terbengkalai beberapa bulan setelah diberi waktu 2 minggu untuk merevisi. Itu ceritanya lho ya.. kenyataannya nanti juga anda tahu, atau mungkin sudah ada yang bisa mennebak bagaimana akhirnya? :D

Lengkap dengan tas slempangan kecil berisi netbook, keyboard dan draft skrispsiku yang belum direvisi, kakiku kulangkahkan menuju ke arah selatan keluar dari kos, kemudian sendowo dan menuju gedung Kampus Selatan FMIPA UGM dimana si perpus yang menjadi target sasaran berada. Belum cukup setengah perjalanan benakku berkata, "yakin lo ke perpus siang-siang gini saat orang lain pada ujian?". Ya, memang sepertinya ke perpustakaan siang bolong seperti ini disaat yang lain sedang mengikuti ujian akhir itu sangat tidak sopan (alasan yang spektakuler mengada-ada).

Seketika itu juga aku langsung teringat salah satu teman yang kemarin sempat berbincang-bincang di kantin kluster FMIPA Utara.  Masih segar di otakku yang mulai layu ini ketika komplainku melayang menyerangnya yang memblok panggilan telepon yang kulakukan ke handphonenya beberapa saat yang lalu yang kemudian ditangkisnya dengan alasan bahwa dia sedang berada di perpustakaan sehingga menyetel untuk menolak semua panggilan masuk di hapenya (hapenya canggih banget dah kalau dibandingkan dengan hapeku -__-'). "Nah, bisa diajak ngubeg-ngubeg perpus baru nih" benakku berkata yang disertai dengan gerakan tangan merogoh handphone di saku celana untuk menelepon si korban. And guess what? automatic rejected! AHA.. dia sedang diperpustakaan ternyata. Akhirnya ku SMS juga dirinya dan kemudian janjian untuk bertemu di depan gedung perpustakaan baru yang baru jadi dan baru pertama kali kuinjaki dengan kakiku. 


Mengingat rute jalan kakiku sudah salah arah yang semula menuju ke selatan dan sekarang harus ke utara, maka kuputuskan untuk pertamakalinya menggunakan jasa sepeda kampus yang kebetulan ada di sekitar kampus Selatan FMIPA UGM. Ok, saatnya menguji kemampuan bersepada yang baru kulancarkan beberapa minggu terakhir ini. Jalan kaliurang yang ramai siang ini menjadi tantangan pertama, dan berhasil lolos, walaupun celanaku harus terkena sadel sepeda yang sesekali terlepas dari pijakan kakiku lantaran jok sepedanya yang terlalu pendek (dan kabar baiknya saya tidak menyadari kalau jok sepeda kampus ini bisa dinaikturunkan -__-). Kemudain jalur GSP dan memasuki area shelter sepeda kampus yang berada di sebelah timur perpustakaan baru UGM. Dan bertemulah dengan temanku itu di depan gerbang masuk perpustakaan yang ternyata ketika kumenelepon tadi dia sedang bernostalgia dengan dosen pembimbingnya.

Masuklah kami kegedung baru perpustakaan ini. Dan karena ini merupakan pengalaman pertamaku memasuki gedung baru ini, maka aku hanya mengekori temanku dari belakang  bak bebek gembala yang mengikuti si gembala. Kesan pertama  yang muncul adalah wow perpustakaannya baru ( ya iyalah baru....) gedungnya lebih bersih (modern jika dibanding perpustakaan yang menggunakan bangunan peninggalan perjanjian kolombo) dan tata letaknya yang lumayan rapi.

Namun, selidik punya selidik setelah menggunakan berbagai fasilitas yang ada, akhirnya saya menemukan beberapa hal yang perlu jadi pertimbangan sebelum ke perpustakaan ini.
  • Belum ada penunjuk arah untuk memberitahukan kepada pengunjung berada dimana toilet, mushola, kantin dll pada gedung yang luas ini
  • Mushola ada di lantai 2, jadi kalau mau sholat dan sedang berada di ruang baca lantai 1 kudu naik ke lantai dua (dan jamin bisa nyasar dulu kalau gak nanya-nanya)
  • Toilet, khususnya toilet pria di depan pintunya tidak ada penanda kalau itu toilet pria (harus pake insting), kemudian pintu pembatas antara washtafel dan tempat pipis berdiri cowok engeselnya udah lepas (ini gedung baru jadi berapa bulan lhooo, kog udah maen rusak aja, destroyer emang dimana2 ya) dan sebelum keluar toilet jangan lupa membaca peringatan untuk hemat listrik (sebelum meninggalkan ruangan ini harap mematikan AC, keran air, komputer, lampu) sejak kapan ada komputer dan AC di toilet??
  • Gedung perpustakaan baru ini ternyata tidak 100% baru sebab ada sebagian gedung lama yang kemudian diintegrasikan dengan gedung baru ini.
  • Signal wi-fi full bar tapi buat ngirim tweet aja butuh loading 4 menit agar terkirim -__-
  • Ada kantin kecil di lantai dua tepat depan tangga turun-naik sebelum ke mushola, dan kuenya enak-enak. catet!
  • Disedikana komputer beserta internet gratis, meja untuk pengguna laptop pun disediakan colokan listrik untuk mengecas baterai laptop (biar gak pada nyolong listrik kali ya)
  • Di ruang baca sayap (utara bagian timur) ada lift tapi ditempelin tulisan "STAF ONLY" warna merah dan di BOLD CAPSLOCK!

demikianlah observasi perpustakaan dadakan hari ini. perlu dicatat postingan ini kupublish dan kutulis di ruang baca dengan menggunakan netbuk dan jaringan wi-fi perpustakaan, ^_^. Selamat membaca!


 

Senin, 02 Juli 2012

Semangat itu.....

Menjadi bersemangat dan memiliki semangat yang menggebu-gebu dalam melakukan berbagai hal yang kita sukai bahkan yang ditargetkan kepada kita merupakan suatu hal yang mutlak ada dalam benak kita ketika kita hendak memulai aksi. Namun, mengumpulkan semangat hingga tersedia begitu banyak di raga kita tidaklah semudah yang dikoar-koarkan oleh berbagai pihak yang senantiasa setia mendukung kita untuk tetap bersemangat menjalani hari.

Semangat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah roh kehidupan yg menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati (menurut kepercayaan orang dulu dapat memberi kekuatan) dst. Begitulah kira-kira gambarannya, karena sampai saat ini pun saya dan mungkin anda juga masih sukar untuk menjelaskan setiap kata yang terdengar dan terucap dengan mudah hampir setiap hari namun tak semudah itu untuk mengungkapkan maknanya secara harafiah.


Semangat, satu kata yang sangat gampang diucapkan dan susah untuk didapatkan.

Begitulah kiranya yang kurasakan saat ini, Semangat untuk  mengejar target yang sudah benar-benar dekat dengan garis batas yang akan memupuskan segala usaha yang sudah kubangun selama ini belum juga datang. Tapi, kita tidak harus menunggu bukan? begitulah kata mereka dan kata hatiku ketika aku masih berkutat dengan kemalasan dan pemikiran akan penyebab-penyebab yang sampai saat ini masih menguras energi dan emosiku. Semangat tidak akan datang dengan sendirinya memenuhi segala sendi kehidupan kita. Semangat tidak akan dengan suka rela mengisi sensor-sensor motorik kita untuk bergerak maju menghadapi kerasnya hidup. Semangat sangat sombong, Butuh usaha yang benar-benar keras dan kontinu untuk menaklukannya.

Bangunlah ketika yang lain sedang tertidur. Berjalanlah ketika yang lain sudah bangun. Berlarilah ketika yang lain sedang berjalan. Dan terbanglah ketika yang lain sedang berlari. Dan ketika yang lain terbang maka saya telah sukses!
Saat ini kiranya semangat sudah mulai luluh melihat kegigihanku yang pasang surut dalam mengakhri polemik pendidikanku yang semakin amburadur kuperbuat. Terlalu memikirkan orang lain, terlalu memikirkan image yang orang refleksikan terhadap segala tindakan kita dan terlalu nyaman berada di comfort zone yang sekian lama membuat rasa malas dan enggan untuk beranjak kian menjadi shield yang menutup pintu untuk semangat masuk mengisi ruang hampa adalah faktor-faktor yang kurasa sangat membantuku dalam menghilangkan semangatku untuk maju dan berkembang :D.

Mungkin semua orang akan menyalahkan orang lain dan faktor-faktor di luar dirinya sebagai penyebab kegagalannya mencapai target yang diinginkannya dalam hidup. Begitupun saya, tetapi semenjak bertemu dengan sosok driver taxi yang kuajak mengobrol ketika menempuh perjalanan dari kos menuju bandara Adi Sutjipto Yogyakarta beberapa hari yang lalu, pemikiranku yang amat sempit dan terkungkung rasa malas menjadi sedikit terbuka bahwa sebenarnya "DIRI KITA SENDIRILAH YANG MENJADI LAWAN KITA UNTUK MERAIH SUKSES!". Saat itu perkataan itu melayang begitu saja di dalam kabin mobil sedan berwarna biru yang melaju di siang yang terik. Tetapi, ketika hatiku benar-benar mulai penat dan lelah menjalani hidup  yang monoton, perkataan itu kembali terngiang, dan ternyata benar adanya bahwa "lawanku saat ini adalah diriku sendiri, bukan siapa-siapa, bukan lingkungan, bukan teman-teman apalagi mereka yang tidak senang melihatku berhasil"


Jadi, demi melawan diri sendiri usaha yang dilakukan haruslah lebih besar. Karena, hal yang harus kita taklukan adalah diri sendiri yang mengenal dengan baik siapa kita dan bagaimana menaklukan kita dengan menghalang-halangi laju semangat masuk kedalam sendi-sendi kehiupan.

Ada beberapa hal yang dapat membangkitkan semangat hidup, antara lain:
1. Tahu apa hakekat sebenarnya hidup ini.
Banyak orang yang tidak tahu apa sebenarnya hakekat hidup ini. Untuk apa kita hidup? Untuk apa kita ada di dunia ini? Memang butuh perenungan yang dalam untuk menemukan jawaban pertanyaan seperti itu. Jika kita menyadari hal ini, tentu kita akan memiliki semangat untuk mengerjakan semua pekerjaan dan urusan kita dengan cara yang terbaik. Satu hal yang penting dan tidak boleh dilupakan adalah niat, karena niat akan menentukan nilai amal/perbuatan kita.
2. Tahu cita-cita hidup kita yang tertinggi.
Semua orang memiliki impian atau cita-cita, namun hanya sedikit yang berani mengejar dan mewujudkannya menjadi sebuah realitas fisik. Banyak orang kehilangan semangat dalam hidupnya hanya karena mereka tidak tahu atau tidak mau tahu akan apa yang sebenarnya yang mereka mau. Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan. Kebenyakan orang hanya menjalankan hidup ini sebagai sebuah rutinitas. Dengan sedikit kenyamanan yang mereka rasakan maka berhenti sampai di situlah impiannya. Mereka takut membuat sedikit perbedaan karena khawatir kenyamanan itu akan hilang.
3. Bersyukur terhadap apa yang sekarang kita miliki dengan tulus.
Dengan mensyukuri semua yang ada pada kita saat ini, itulah sebenarnya sumber semangat kita. Kita akan sadar bahwa Tuhan sebenarnya sangat sayang kepada kita. Banyak sekali nikmat yang sudah kita rasakan, sementara lebih banyak lagi orang yang nasibnya tidak seberuntung kita. Ada pun sesuatu yang kita inginkan yang belum kita miliki, itu adalah kesempatan bagi kita untuk berikhtiar semampu kita untuk mendapatkannya. Jangan pernah kecewa, apalagi putus asa.
4. Yakin bahwa apa pun yang kita lakukan akan mendapat balasan, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Setiap perbuatan kita pasti akan ada efeknya. Kita tersenyum kepada orang lain maka orang lain pun akan tersenyum kepada kita.
Setelah kita tahu bahwa apa pun yang kita lakukan akan menimbulkan akibat, baik langsung maupun tidak langsung terhadap diri kita, maka kita harus memilih hanya untuk berbuat yang baik, positif, bermanfaat dan bernilai saja. Dengan demikian, bisa dipastikan efek yang akan kembali kepada kita juga hal-hal yang baik. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini jika kita tahu benar apa yang kita lakukan. Waktu kita adalah aset terpenting setelah nafas/oksigen maka kita harus mengisinya dengan gerak/aksi/perbuatan yang jelas manfaatnya. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Jadi semuanya pantang sia-sia. read

so, what do you waiting for? start right now, right here!


Minggu, 18 Maret 2012

Revisi Cinta dan Skripsi

Alhamdulillah..alhamdulillah.. alhamdulillah..
Akhirnya setelah sekian lama berkutat dengan tugas akhir, akhirnya selasa, 13 Maret 2012 jadual pendadaran yang harus kulalui sampai juga. Seperti biasa, karena memang saya "banci tampil" maka bukannya tegang atau gugup dalam menanti hari itu datang tapi excited dan santai saja.Karena toh selama tugas akhir dan presentasinya kita buat sendiri kenapa harus takut? bukan begitu?

Tetapi, seperti biasa, persiapan sematang apapun dan pengetahuan semumpuni apapun jika tidak disertai dengan keberuntungan maka semuanya akan menjadi sia-sia.

Tidak seperti biasanya, hari itu, mataku dan badanku bangun jauh lebih awal, padahal semalam begadang sampai pukul 2 pagi mengobrol dengan teman yang kebetulan menginap setelah keliling kelurahan Terban untuk melakukan persiapan pra-survey yang tawarannya kuterima bersamaan dengan masuknya notifikasi jadual ujian di HP bututku. Jam di HP menunjukan pukul 5.32 WIB, temanku masih terlelap. Kubangun dan mempersiapkan diri, mengambil wudhu dan sholat subuh.Sungguh indah ternyata bisa bangun pagi dan bisa sholat subuh lebih awal dari biasanya tanpa harus berkejaran dengan matahari yang hendak mulai menyinari hari. On line sebentar, mengupdate status :


Mandi kemudian bersiap berangkat tepat pukul 07.03 pagi diantar teman. Sesampai di kampus, langsung menuju ke lantai 3 dimana ruangan pendadaran berada. Bertemu penjaga ruangan untuk memastikan segala peralatan telah siap dan ruangan sudah ditata. Ruangan terasa dingin dan sepi, karena ini masih pukul 7 pagi lebih sedikit dan memang aku tidak mengundang seorang pun untuk menghadiri sidang pendadaranku ini kecuali kakak kelas yang kebetulan bersama-sama berjuang menyusun skripsi dengan dosen pembimbing yang sama. Netbuk kusiapkan dan kunyalakan, file-file yang kira-kira dibutuhkan sudah terbuka di taskbar, powerpoint dalam keadaan siap dan mengecek hal-hal kecil. Setelah persiapan kurasa sudah cukup, saatnya menunggu dosen penguji berdatangan satu persatu. Oh iya, ketua dosen pengujiku hari ini Dr.rer.nat Dedi Rosadi. Ms.C. dan 2 dosen lainnya yaitu Adhitia Ronie Efendi dan dosen pembimbing akademikku Zulaela Dipl.Med.Stat. yang beberapa menit sebelum pukul 8 dikabarkan bahwa beliau tidak bisa hadir dan meminta waktu sendiri untuk mengujiku di ruangannya pukul 11 nanti.

Jam di ruangan ujian sudah menunjukkan pukul 08.06 ketika kutolehkan kepalaku kedalam ruangan dan perasaan tegang mulai menghampiri, menunggu harap-harap cemas karena belum ada satupun dosen yang datang. Hingga akhirnya pukul 08.10 pak Adhitia Ronie datang dan mengobrol-ngobrol sebentar sembari menggodaiku mengenai status yang kutuliskan pagi ini. Ternyata beliau belum mengetahui bahwa mahasiswa yang akan diujinya pagi ini adalah diriku berhubung katanya draftku baru dieprolehnya pagi ini. WOW!! sebuah kejutan awal.

Beberapa menit kemudian pembimbing Tugas Akhirku bapak Prof. Suryo Guritno datang dan menanyakan siapa saja dosen penguji hari ini. Menunggu beberapa saat untuk kedatangan ketua dosen penguji, namun sampai 15 menit belum datang juga.Akhirnya pak Ronie memutuskan untuk memulai ujianku pagi itu tepat pukul 08.25 pagi. 

Dua puluh menit, itulah waktu yang diberikan kepadaku untuk mempresentasikan hasil jerih payahku 2 bulan terakhir. Saat presentasiku memasuki 1/4 bagian, pak Dedi Rosadi datang. Tidak ada yang aneh ataupun prasangka maupun firasat buruk akan kedatangannya. Presentasiku lancar.beres dalam 16 menit. Waktu ku kembalikan ke pak Ronie untuk memulai pertanyaan.

Sampai saat pak Ronie memberikan kesempatan kepada pak Dedi untuk bertanya."Ya, aku pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya" seruku dalam hati. Namun, semua kepercayaan diri dan modal yang kupersiapkan mulai goyah ketika pertanyaan "apakah anda sudah melakukan study literatur tehadap Skripsi teman2 anda sebelumnya?" melayang dari lisannya. Dan aku menjawab dengan yakin "iya pak..sudah". Hingga saat pernyataan lanjutan "Berarti tahu kalau ini sudah ada yang pernah mengerjakan? sama persis lho mas. saya tau karena yang mengerjakan itu anak bimbingan saya. tahun 2001. dan dia lebih lengkap dari apa yang anda presentasikan" melululantahkan kepercayaan diriku dan keyakinan akan kemampuanku. Aku terdiam, pak Suryo berusaha membantu dengan menjelaskan, tapi ..semuanya sudah terlambat, TA ku pernah dibahas sebelumnya, dan bagusnya aku tidak tahu, Tema itu tidak ada di list Judul Tugas Akhir yang diedarkan, dan tidak ada juga di database perpustakaan MIPA, kenapa ini bisa terjadi? Oh Tuhan, salahku apa? batinku bergejolak berusaha menemukan solusi untuk menenangkan diri. tapi gagal, aku kalah hari ini.

Pendadaranku berhenti di situ. Saran-saran untuk memperbaiki dan menambahkan hal-hal yang menjadi pembeda serta deadline 2 minggu menjadi penutup presentasiku dan pendadaranku yang singkat.

Mungkin semua itu adalah representasi dari kejutan pagi ini yang kulihat ketika iseng-iseng menggunakan wi-fi yang tersedia di ruang sidang untuk mengakses facebook.Kembali beberapa jam sebelum pendadaran singkat itu terjadi. Pukul 7.40 sembari menunggu di ruangan berdua dengan teman yang mengantarku ke kampus, aku iseng-iseng mengecek availability signal wi-fi di ruangan sidang, dengan tujuan membunuh kebuntuan menanti. Kupulih salah satu signal dan ternyata tersambung tanpa harus log-in. Akhirnya ku putuskan untuk membuka facebook.Tanpa kusadari tindakan iseng ini akan membawaku ke penyesalan paling dalam seumur hidupku.

Awalnya semuanya biasa saja ketika ada beberapa notifikasi berkaitan dengan status yang kupublish sebelum ke kampus. Hingga akhirnya masuk ke home facebook dan menemukan up-date status dari seseorang yang cukup spesial bagiku saat ini. Sewaktu ku SMS, dia berkata "akan ku kabari kalau aku ke jogja, kamu konsen saja dulu dengan pendadaranmu". begitu katanya semalam sewaktu aku memutuskan untuk mengabarinya kabar gembira pendadaranku. Namun, pikiranku yang tenang dan positif menjadi semakin kalut ketika mendapati up-date status tersebut dan terungkap bahwa dia sudah berada di jogja sejak senin, dan tidak mengabariku. Awalnya kuberharap itu sebagai kejutan untukku, sebagai hadiahku yang telah berhasil menyelesaikan penyusunan skripsi. Namun, sampai saat ini dia belum sama sekali menghubungiku untuk menemuiku. 

Ya, sepertinya revisi yang harus kulakukan untuk tugas akhirku ini juga membawaku pada pemikiran untuk merevisi hubungan asmaraku, untuk meyakinkan bahwa hatiku dan hatinya memang satu, satu tujuan, satu pemikiran dan satu cinta. Hingga kini revisi skripsiku terbengkalai karena masih memikirkan apa kesalahan yang telah kuperbuat sampai aku harus benar-benar merevisi segalanya. cinta dan skripsi ku.

Jangan sampai lupa akan janji yang anda ucapkan, karena bisa saja ketika anda sudah melupakannya  orang yang anda janjikan masih mengingat dengan jelas kapan, dimana, bagaimana dan tentang apa anda berjanji dan menunggu untuk anda tepati