Search it here

Rabu, 20 Juli 2016

Aged Jobseeker (3) : Jobfair Hunter!

Setelah melalui serangkaian penipuan yang berakhir tak tertipu :-), akhirnya aku mulai mencari informasi mengenai jobfair yang mungkin saja akan diadakan dalam waktu dekat ini.

Seperti biasa, aku yang selalu tanpa persiapan dan tanpa perencanaan tidak menyadari bahwa saatku memutuskan resign (Juli) adalah saat dimana Lebaran baru saja usai yang berarti gelombang urbanisasi untuk mencari pekerjaan yang lebih baik  di Jakarta semakin besar yang berkorelasi positif dengan semakin kecilnya peluangku mendapatkan suatu posisi pekerjaan di sebuah perusahaan.

Selain itu, bulan ini - juli,agustus - adalah bulan di mana banyak lulusan universitas baru (fresh graduated) yang mulai berkeliaran kesana kemari untuk mencoba peruntungan di dunia kerja yang sesungguhnya. Menyikapi hal tersebut, aku yang notabene lulusan tahun 2012 dengan usia mepet ini mau tidak mau harus mulai bisa dengan sendirinya menyaring lowonan kerja mana saja yang bisa kumasuki mengingat - tanpa menutup mata - lulusan baru ini PASTI dibekali dengan pengetahuan, skill, dan kemampuan yang lebih matang dibandingkan dengan lulusan mahasiswa pada eraku.

Lupakan pengantar yang menyedihkan itu :p.
Mari kita lanjut dengan pengalaman mengikuti jobfair yang telah - ya... setidaknya - kucoba selama mencoba peruntungan di Ibu Kota Negara tercinta ini. Setelah mengutak-atik twitter yang biasanya menjadi sumber utama informasi berseliweran dengan sekilas, akhirnya aku menemukan jadwalevent.web.id yang secara gamblang membantu menyampaikan jobfair apa saja dan di mana saja yang akan berlangsung selama bulan Juli 2016 ini. Akhirnya, setelah menyeleksi, aku memutuskan mengikuti beberapa jobfair yang tentunya sudah kusesuaikan dengan kemudahan aksesnya menggunakan transjakarta atau KRL, karena aku tidak mau bersusah payah mengingat rute angkot, kopata, kopaja, apalagi bajaj (yang keamanan dan ongkosnya bisa sangat mahal untuk ukuran seorang pengangguran) karena akan sangan tak terbayangkan masalah apa yang akan mendambah penderitaan seorang pengangguran di Jakarta jika salah naik angkot apalagi bajaj.

1. Jobfair Jakarta Selatan 

Tanpa sempat mengroscek bagaimana skala dan siapa saja peserta event jobfair ini aku langsung mengecek transportasi apa saja yang memungkinkan aku untuk mengikutinya. Seperti biasa, Transjakarta dan atau KRL menjadi pilihan utama dan tentu saja aku memutuskan untuk menggunakan public transportation itu di luar jam sibuk (setelah jam 9 pagi) untuk menghindari bejubelnya pengguna yang akan sangat mengganggu penampilan maksimalku untuk mengikuti jobfair - kan gak seru kalo interview dengan muka kusut, rambut acak-acakan dan bau yang semerbak buruk :D.

Jobfair ini dilangsungkan di Gelanggang Remaja Pasar Minggu pada Tanggal 18-20 Juli 2016 dan aku memutuskan untuk datang pada hari pertama untuk menjemput pekerjaan yang mungkin saja sudah menungguku sejak lama.

Mengingat pasar minggu merupakan tempat yang hanya akrab di telingaku tapi tidak akrab di kakiku, maka akhirnya dengan memberanikan diri aku menggunakan kombinasi dari Transjakarta dan KRL dengan rute  TJ : Sumber Waras - Harmoni - Juanda ; KRL : Juanda - Pasar Minggu, ya, aku langsung membelah jakarta :D. dan ditambah jalan kaki tentunya sekitar 900 meter dari stasiun pasar minggu ke TKP - cukup untuk tanning kulit dan mandi Vitamin D. 

Sampai di lokasi Jobfair tidak ada keriahan yang berlebihan seperti layaknya ajang Jobfair lainnya. Sepi. Setelah memberanikan diri akhirnya aku menyamperi sebuah meja berisikan 2 orang lelaki yang kutaksir usianya lebih muda dariku yang memegang lembaran yang ternyata adalah formulir pendaftaran peserta. Kuambil lalu kuisi dan kubawa ke lantai 2 ke meja registrasi yang juga dijaga 2 orang pria (hmmm, mereka suka memsangkan pria dengan pria :D), membayar Rp.25.000,- dan menyerahkan tanganku untuk mereka nodai dengan stamp - setelah seelsai jobfair  terbaca URGENT (seolah-olah tahu isi hatiku yang lagi urgent menanti jodoh,, eeh pekerjaan maksudnya)

Setelah masuk kedalam, alangkah terkejutnya aku, peserta jobfairnya tidak lebih dari 20 perusahaan yang duduk dibalik meja ala sekolahan jaman dulu dan dilengkapi Roll Banner dengan informasi alakadarnya dibuat mengelilingi lapangan yang kuduga sebagai lapangan basket. Never undersetimate apalagi mengejudge hanya dari tampilannya, siapa tau pesertanya ini adalah perusahaan bonafide yang menawarkan posisi menjanjikan denga gaji yang menggiurkan? iya gak. Dan setelah selesai kukelilingi dalam 15 menit, setidaknya hanya 3 perwakilan perusahaan asli yang ada dan 2 diantaranya cukup menjanjikan sedangkan sisanya adalah lembaga outsourcing. Aku sendiri saat itu mengedrop CV ke 3 tempat yaitu MGM(kalo gak salah), CIMB dan satunya lupa.

Dari ketiga perusahaan tersebut yang paling menarik adalah CIMB yang sepertinya standnya (meja,red) dijaga oleh sales Go Mobile karena saat mendaftar mereka memastika nomor handphone aktif dan ada pulsa (catet, ada pulsa minimal 1000 rupiah) kemudian menyuruh kami menunggu sesaat sambil mereka menekan-nekan layar smartphone nya dengan latar aplikasi dan mengonfirmasi kami apakah menerima nomor regirtrasi (yang saat itu kukira sebagai nomor registrasi calon karyawan) dan meminta kami mengejanya sembari menginput ke HP mereka dan sejurus kemudian masuklah SMS ucapan terima kasih telah melakukan Registrasi GO Mobile/Rekening Ponsel CIMB (ingat, mereka tidak menyampaikan ini sebagai registrasi Go Mobile tapi ini syarat mendaftar.)

Aku menyelesaikan jobfair tersebut hanya dalam waktu 20 menit dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kosan sembari menangkap Pokemon :D - oh iya aku dapat Bellsprout CP 350 lhooo :D

hint lokasi : Sepanjang Jalan dari  Gelanggang Remaja sampai Stasiun Pasar Minggu


2. Mega Career Expo Jakarta

Setelah mengikuti Jobfair alakadarnya (tanpa mengurangi rasa hormat sama sekali) selanjutnya aku mengikuti Jobfair yang diadakan di  Gedung SMESCO Exebition Hall pada tanggal 19-20 Juli 2016. Berbekal pengalaman sebelumnya, aku memutuskan untuk sedikit mencari tahu siapa penyelenggara dan siapa saja yang berpartisipasi di Jobfair ini. Setelah itu mempelajari penyelenggara dan pesertanya akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya dan tentunya mengecek rute Transjakarta atau KRL terlebih dahulu. Bagusnya adalah, aku tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh dari halter terderkat ke TKP dan tidak perlu berganti moda transportasi.

Naik dari Sumber Waras dan transit ke Grogol 2 ke arah Pinang Ranti aku akhirnya turun di halte Pancoran Barat dan kemudian Jalan kaki sejauh 200an Meter untuk ke TKP. Saat tiba di lokasi antrian pencari kerja yang walaupun sudah lusuh tetap cantik-cantik.  Mengambil formulir, mengisinya sembari mengantri (Karena kalau mengisi dulu baru antri dijamin aku akan lebih lama bisa masuk kedalam venue jobfair ini.

Biaya pendaftaran Rp.40.000, Sebelum membahas siapa saja pesertanya ada yang menurutku menarik dan sedikit memaksa peserta untuk membeli produk tertentu. Di meja registrasi sudah ada beebrapa produk sponsor berupa Kopi Schet CBA, Permen Pelega Tenggorokan, paket pembersih wajah yang dibintangi Pevita Pearce, dan satu buah CD album artes antah berantah yang tak tau siapa orangnya jebolan mana dan bagaimana suara dan wajahnya.

Di meja registrasi semua petugas registrasi akan otomatis menyebutkan tidak ada uang kembalian ketika kita mengeluarkan pecahan seratusribuan dan limapuluhribuan yang kemudian disambut gayung oleh sales wanita dibelakangnya yang kemudian : "udah mbak/mas, tambah 10.000 aja lagi bisa dapat CD dan Kopi/Paket pembersih wajah" yang kemudian mau gak mau di "iya" kan oleh sebagian besar pencari kerja saat itu. Menurutku ini sedikit memiriskan karena sebagai event organizer seharusnya mereka siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi termasuk menyiapkan kembalian Rp.10.000an. kecuali memang sudah diarahkan untuk membantu penjualan CD album artis tertentu guna menyaingi Ayam Goreng Krispi Eentertainment.

Secara keseluruhan, jobfair ini sangat menjanjikan karena diikuti oleh perusahaan-perusahaan besar baik dari perbankan, industri, penerbanga, sampai media. Selain itu, adak dek Pevita  yang memberikan pengetahuan dan pengalamannya dalam mencari pekerjaan sejak kelas 6 Sekolah Dasar. Aku sendiri memasukan lamaran ke 5 Perusahaan berbeda bidang, inilah.com, perusahaan retailer alat tulis, astragroup, manulife dan 2 lainnya lupa :D. Dan alhamdulillah jumat siang besok aku akan mengikuti psikotest di salah satu perusahaan yang kulamar, doanya ya... :D

Begitulah kiranya pengalamanku mengikuti Jobfair di Jakarta, semoga salah satu dari sekian banyak perusahaan yang kulamar mau menerima pinanganku dan menjalin hubungan profesional selanggeng-langgengnya sampai kakek-nekek, Selain itu, masih ada 2 Jobfair  lagi yang rencananya akan kuikuti mengingat CV ku masih tersisa 4 Exampelar. yaitu Indonesia Career Expo Jakarta di Gedung SMESCO Exebition Hall pada tanggal 22-23 Juli 2016 dan Kompas Karier Fair - Jakarta  di Balai Kartini tanggal 22-23 Juli 2016

Wish Me Luck!



Sabtu, 16 Juli 2016

Aged Jobseeker (2) : Dealing with Job Interview Fraud

Setelah resmi menganggur seminggu yang lalu, langkah dimulai dengan mengulik official web dari beberapa perusahaan yang menurutku layak untukku memasukan lamaran kerja sesuai spesifikasi yang kumiliki serta tak henti-hentinya memperbarui CV dan akun jobstreet yang sejak pertamakali kubuat baru seminggu teakhir ini memiliki daftar lamaran kerja yang mengular.

Namun, namanya negara dengan sejuta talenta, pasti ada saja orang-orang yang hanya bermodal komputer jinjing dan handphone yang memanfaatkan betapa butuhnya orang lain akan pekerjaan yang representatif khususnya di Ibukota Negara kita tercinta, Jakarta. Awalnya, ketika aku mendengar keluhan beberapa teman mengenai adanya undangan tes dan wawancara fiktif aku merasa turut bersimpatik dan berharap hal itu tidak terjadi padaku, tapi apa mau dikata, selama aku masih menggunakan e-mail dan mengandalkan informasi di situs pencarian lowongan kerja maka peluang keusilan kelompok orang tersebut pasti akan menimpaku.

1. Jetmark Group dan Mataram Corp
Dimulai dari informasi lowongan di Jetmark dan Mataram Corp yang awalnya membawa angin segar kepadaku, hanya beberapa jam setelah CV dan lowongan kumasukan ke Jobstreet, HRD dari kedua perusahaan tersebut langsung menghubungiku dengan mengatakan ketertarikan mereka akan resume yang kuunggah ke situs pencarian kerja tersebut, aku yang saat itu masih asik dengan kegiatan lain langsung saja mempercayai hal tersebut. Saat itu aku ditelepon jam 10 Kamis Pagi, dan diundang untuk menghadiri interview setelah sholat jumat (esok harinya) ke alamat yang sangat jelas dan mereka mempersilahkanku untuk mencari alat tulis dulu guna memastikan alamat yang mereka berikan tak kulupakan, yaitu  Plaza UOB Lt. 34 Unit 2, Jl, M.H. Thamrin Kav. 8-20. Sebelum mengakhiri obrolan yang saat itu menurutku tidak mencurigakan tersebut, bapak yang mengaku namanya HARI ini memintaku untuk megulang alamat yang diberikannya tadi, dan dengan polosnya aku mengulanginya :) . Sebagai catatan nomor telepon kantor tersebut  021-31996957.

Aku yang saat itu sedang bertandang ke kosan teman langsung pamit untuk kembali ke kosanku untuk mempersiapkan data-data yang diminta oleh Bp. Hari yang terhormat, dengan menggunakan Transjakarta tentu saja. Tapi ternyata dalam perjalananku ke halte busway ada 2 panggilan tak terjawab dari nomor 021-7180732 yang dengan polosnya aku telepon kembali dan mendapat response yang kurang baik dari operator telepon yang cenderung "jutek" ketika aku mengonfirmasi siapa gerangan yang meneloponku. Tapi setelah aku menyebutkan namaku dia langsung sedikit lunak dan dengan pedenya menyebutkan nama lengkapku dan mengonfirmasi bahwa tadi bagian HRD mereka meneleponku dan aku tidak menjawab,sejurus kemudian dia langsung menenangkanku bahwa HRDnya akan kembali menelponku 5 menit setelah percakapan aneh kami tersebut. Dan ternyata benar, Seorang Wanita sebut saja Ibu yang mengaku dari HRD tanpa menyebutkan namanya terlebih dahulu kembali meneleponku dengan hanya menyebutkan perusahaannya yaitu Jetmark Corp, dan menanyakan apakah saat itu merupakan saat yang tepat untuk mengobrol karena beliau akan mengundangku interview sesuai lamaran yang kumasukan di jobstreet, tapi aku meminta dia menelepon 1 jam lagi setelah aku sampai di kos karena saat itu suasana halte sangat berisik. Tapi dia tidak pernah menelepon lagi.

Karena rasa penasaranku dengan panggilan interview dadakan tersebut aku teringat akan cerita temanku tersebut dan akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan sisa kuota internetku untuk mencari tahu tentang perusahaan yang mengajakku ngobrol-ngnobrol besok siang, dan akhirnya kuketahui ajakan mengobrol tersebut mengandung niat tidak baik yang menguntuungkan mereka dan merugikan kami-kami yang sedang kalap mencari pekerjaan ini. dan akhirnya aku hanya sholat jumat dan kembali tidur di kosan.:)

 2. Panasonic Gobal-Gobel Indonesia.

Karena akun emailku kudaftarkan di beberapa situs penyedia lowongan kerja maka otomatis notifikasi akan semakin sering ber-dingdong ria di handphoneku, khususnya dari situs-situs tersebut.
Berawal dari email ini, aku mengikuti tautannya dan mendapati hasil terjemahan yang asal-asalan dari situs penyedia lowongan kerja tersebut, yang awalnya aku rasa karena settingan otomatis menerjemahkan email berbahasa asing ke bahasa indonesia, scroll up scroll down untuk mencari posisi yang bisa kulamar dan akhirnya menemukannya. Dan saat itu aku tidak begitu memperhatikan apalagi mencurigai bahwa ini adalah tautan penipuan yang mengarahkanku pada perangkap mereka walaupun aku sedikit ragu ketika perusahaan sebesar Panasonic masih menggunakan gmail sebagai akun email HRD nya. Saat itu aku dengan serius mengirim surat lamaran ke recruitment.panasonic.id@gmail.com yang kemudian berbalas dengan email panggilan psikotest di BALI. ya. BALI. 

Awalnya aku tidak mengecek panggilan tersebut via email karena nyawaku saja pagi tadi belum terkumpul namun ternyata ada sms masuk dari 082343964063 : Kpd. Yth. Pelamar kerja PT Panasonic Gobel, surat panggilan tes interview telah kami kirim ke email anda, silahakn dicek dan pelajari dengan baik. terima kasih.

aku yang saat itu belum sepenuhnya bangun langsung tersentak dan membuka laptop untuk menegcek email tersebut. Saat sedang menunggu loading emailku aku sedikit berpikir, bagaimana bisa redaksi kalimat undangan begitu mengajari dan insisting. Ah. mungkin aku hanya berpikir negatif. Akhirnya e-mail terebut kucek dan ternyata benar dari PT Panasonic Gobel dengan alamat recruitment.hrs@id-panasonic.com . awalnya aku tidak memperhatikan, karena aku langsung tertuju pada lampiran email yang begitu matang mereka persipakan. Karena disitu ada kop surat dan surat yang ditandatangani, daftar orang-orang yang diundang, dan instruksi untuk membeli tiket di Tour dan Travel yang mereka tunjuk. Isi surat dan formatnya sangat amat meyakinkan, saking meyakinkannya aku sedikit bertanya-tanya bagaimanamungkin sebuah perusahaan swasta menembuskan surat panggilan interviewnya ke departemen tenaga kerja, sungguh mulia.

Karena aku yakin dengan isi surat undangan tersebut, akhirnya aku mengirim sms konfirmasi ke hadiran ke nomor 082343964063  dengan format PANASONIC #NAMA #HADIR/TIDAK, dan langsung dibalas dengan perintah menghubungi tour dan travel yang telah mereka tunjuk, OK, aku masih mengikutinya. Aku segera mengubungi Pak Arif dengan langsung menelon tapi ternyata direject hingga akhirnya aku meng-SMS dan mengonfirmasi aku adalah salah satu korbannya :-). Dan bapak Arif hanya membalas dengan "HARAP HUBUNGI KAMI". OK, aku mengikuti aturan mainnya dang segera menghubunginya kembali dan dari nada suaranya aku bisa memastikan bapak Arif ini bukan keturunan pribumi (begitu keturunan tiongkok menyebutnya) dan kemudian menerangkan bahwa akomodasi dari bandara Ngurah Rai bali ke hotel dan seterusnya ditanggung oleh perusahaan tapi dengan catatan kami peserta harus membayarkan terlebih dahulu (sampai disini masih masuk akal) sampai akhirnya beliau yang terhormat menyampaikan bahwa total biaya yang harus aku bayar adalah 5.360.000 dan memintaku untuk mengirimkan data-dataku berupa nama, no morktp, tujuan dan mengonfirmasi aku akan membayar biaya tersebut menggunakan akun bank apa.

Aku menjawab BNI, tapi beliau yang terhormat malah memberitahukan bahwa akun mereka BRI dan mengajariku cara mentransfer antar rekening dengan menambahkan 3 digit tambahan sebagai kode tranfer ke BRI dari BNI. (sungguh baik dan dermawan).

Yang memmbuatku akhirnya meyakini  bahwa ini bentuk penipuan adalah : 

  1. Alamat tempat test yang dimaksud dan alamat kantor Panasonic di bali itu tidak terdaftar pada web resmi Panasonic. 
  2. Semuanya terkesan terlalu cepat, baik respon balasan email lamaran kerja maupun semua prosedur yang diinstruksikan oleh komplotan orang-orang kreatif ini.
  3. Panasonic memang membuka banyak lowongan kerja di web mereka tapi alamat email untuk berkirm CV adalah recruitment.hrs@id.panasonic.com BUKAN recruitment.panasonic.id@gmail.com atau recruitment.hrs@id-panasonic.com.
  4. Biaya perjalanan pulang pergi ke Bali hanya butuh 1.000.000 rupiah dan jika memang menambahkan hotel 2 atau 3 hari hanya total 1.800.000 itupun masih terlalu mahal, BUKAN 5.360.000,-
Setelah memastikan hal tersebut penipuan, aku akhirnya tidak mengonfirmasi kesiapanku menghadiri undangan interview tersebut dengan tidak mengirimkan data pribadiku, atau mungkin besok aku akan megirimkannya untuk mengetahui nomor rekening mereka yang ya setidaknya bisa dijadikan bahan laporan untuk pemblokiran akun bank.

Begitulah kiranya pengalaman menghadapi penipuan yang memanfaatkan kekalutan kita para pencari kerja, hikmahnya adalah, sebutuh apapun kita terhadap suatu hal, jangan sampai akal sehat dan nalar kita terkalahkan. BE SMART.

Senin, 11 Juli 2016

Aged Jobseeker (1)

Whoila...
Setelah sekian lama blog ini kosong dengan postingan baru, akhirnya saya punya banyak waktu luang untuk kembali menuliskan apapun kisah yang kuanggap perlu untuk dibagi. Baik atau tidaknya silahkan nilai sendiri, saya yakin tidak banyak nilai yang bisa diambil dari setiap postingan blog saya, tapi setidaknya bisa menjadi sudut pandang lain terhadap setiap permasalahan hidup baik itu yang mainstream maupun yang nyeleneh.

Postingan pertama di 2016 ini akan saya isi dengan pengalaman kembali menjadi jobseeker setelah proses pengunduran diri yang yaaah,, sedikit ribet kalau dijelaskan dari tempatku bekerja sebelumnya. Mencari lowongan kerja kali ini menjadi sangat menyita emosi karena sangat berbeda dengan saat pertamakali aku mengikuti jobfair sebagai freshgraduated student. Saat ini usiaku mencapai 29 Tahun yang bukan lagi menjadi pilihan utama para penyedia lowongan kerja, mengingat untuk batasan umur seusiaku menjadi sangat kritis jika tidak dibekali pengalamn kerja yang cukup lama. Mengingat pengalaman kerjaku satu-satunya adalah sebagai staff marketing yang sangat jauh dari backround sebagai sarjana statistika selama hampir 4 tahun, maka mau  tidak mau, lowongan kerja yang saat ini banyak tersebar di web lowongan kerja seperti jobstreet dkk, terseleksi dengan sendirinya.

Begitu surat referensi kerja yang menjadi tanda pengunduran diriku diterima - diberikan, otakku langsung berpikir keras untuk segera mencari pekerjaan lainnya yang mungkin bisa lebih mengenmbangkan potensiku diusia yang sudah tidak muda lagi. 

 

Daftar Riwayat Hidup yang terakhir kuedit di tahun 2012 kembali kubuka dan kusesuaikan dengan keadaanku saat ini sebagai pengangguran dengan pengalaman kerja sebagai pimpinan cabang junior di tempatku bekerja sebelumnya. Pas foto yang masih menyajikan kepolosan lulusan baru universitas terpaksa kuganti dengan yang baru. Fotokopian ijasah kubuka lagi di amplop file andalan yang sudah berdebu, bagusnya legosnya masih ada.  

Kembali menyusun resume, kata-kata gombal untuk merayu HRD perusahaan-perusahaan yang kutuju, lowongan kerja, sampai mulai memperlajari rute angkutan umum di Jakarta dan sekitarnya. 

Sampai saat ini sudah 30 lowongan kerja yang kulamar dan baru 3 yang mendapat respon baik, dan semoga salah satunya bisa menjadi  tempatku bekerja nantinya.



Selasa, 01 Juli 2014

Akhirnya ke "Lavatory"

Seiring dengan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan aku minimal 6 bulan sekali melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, maka ketakutanku akan ketinggian - Acrophobia - atau lebih spesifik lagi - Aerofobia - terpaksa harus bisa kukendalikan.


Aku yang selama ini lebih memilih transportasi darat atau laut ketika harus berpindah tempat yang lumayan jauh akhirnya harus merelakan diri bertahan dengan ketakutan yang amat sangat ketika harus menggunakan jasa layanan maskapai penerbangan. Kapal laut dan kereta api atau bus merupakan pilihan utamaku seandainya waktu yang diberikan untuk berpindah tempat lebih dari 2 hari, mengingat lokasi penempatanku di Medan, Sumatera Utara dan kantor pusat perusahaanku ada di Yogyakarta. Namun mengingat kebiasaan kantorku menginstuksikan untuk berpindah tempat dalam hari yang sama maka solusi menggunakan lalulintas darat sangatlah tidak mungkin. Terbang dengan pesawat terbang menjadi solusi satu-satunya.

Ketika di atas kabin? tidak perlu dipertanyakan apa yang kuperbuat. Begitu suara lembut ala pramugari yang direkam dan diputar berpuluh-puluh kali dalam satu hari berkumandang memenuhi kabin pesawat yang mulai sesak saat kakiku bahkan belum kujejakan kedalammnya, kakiku mulai terasa lebih dingin dan lebih basah dari sebelumnya. Tidak banyak yang dapat kuperbuat, air mineral 500ml yang biasa kubawa tidak habis-habisnya kuminum sampai tetes terakhir. Keringat mulai membasahi dahiku, kaki semakin terasa dingin bahkan kaus kaki yang kukenakan terasa basah, tangan berkeringat dan jantung berdegup semakin kencang. Aku takut, was-was, yang kemudian menciptakan berbagai skenario di dalam otakku tentang apa saja kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana aku harus menghadapinya.
Kadang aku tersentak ketika pesawat melewati gumpalan awan yang mengakibatkan guncangan di dalam kabin pesawat. Istighfar disertai memegang sandaran tangan atau bahkan kursi penumpang di depanku. Malu kadang melanda saat diriku dengan tidak sadar melakukan itu ketika 2 penumpang lain pada barisku adalah wanita atau bahkan anak kecil.

Terkadang, karena terlalu banyak mengonsumsi air putih sebagai pengendali stres, akhirnya berbuntut pada penuhnya kandung kemihku yang memaksa cairan di dalamnya saling berdesakan untuk keluar. Tapi apa yang kuperbuat? Duduk dengan menahan agar air seni tersebut tidak sampai keluar sebelum pesawat yang kutumpangi mendarat dengan selamat, yang berbuntut pada tergesa-gesanya diriku keluar dari pesawat begitu pramugari mempersilahkan untuk turun. Dan tujuan pertamaku bukanlah tempat pengambilan bagasi melainkan toilet.

Pilihan itu kulakukan karena menurutku berjalan ke lavatory merupakan perjalanan yang sangat amat membutuhkan perjuangan perlawanan mental. Jauh, dan melelahkan jika aku harus membayangkan berjalan di atas udara dari kursi ke kursi menuju ke lavatory terdekat.
Tidak pernah kubayangkan bentuk lavatory pesawat seperti ini, sampai akhirnya pada penerbangan dari Medan ke Jakarta yang memakan waktu 2jam 15 menit pertahanan rasa takutku yang menahan hasrat buang air kecil jebol. Kuberanikan diri, membaca bismillah, memperhitungkan jarak yang harus kutempuh dari kursi nomor 11 sampai ke lavatory terdekat atau lavatory bagian depan pesawat. Malang bagiku, ketika semua sudah siap 100% untuk menuntaskan hasratku, ternyata penumpang lain dari kursi lebih depan kemudian berdiri dan menuju lavatory yang sama ketika langkahku baru sampai deretan kursi nomor 7. Malang tak dapat dihindari akhirnya aku berbalik arah dan melanjutkan langkahku menuju lavatory bagian belakang pesawat. Hm.. keberanianku semakin berkurang dan hasrat buang air kecilku semakin tak tertahan, mungkin karena aku akhirnya memberanikan diri untuk berdiri dan secara psikologis seluruh syaraf motorik dan sensorikku memerintahkan untuk besiap berkemih.

Kulangkahkan kakiku menyusuri seat demi seat sembali menahan hasrat buang air kecil, dan tau? ketika aku satu baris lagi sampai di lavatory belakang, penumpang yang tadi menyerobot lavatoryku baru saja selesai menuanikan hajatnya...-_-!. 

Satu bagian yang menurutku menambah tingkat keseraman buang air di lavatory pesawat terbang adalah ketika selesai menyempurnakan hajat, flushnya akan mengeluarkan suara yang sangat tidak umum dan cenderung membuat takut penggunanya khusunya saya.

Begitulah perjuanganku untuk menuntaskan hajatku di lavatory pesawat terbang, yang membuatku sedikit mengontrol konsumsi air minum sebelum menikmati layanan penerbangan suatu maskapai.

Jumat, 30 Mei 2014

May - Wonderful Painful Month!

Bulan mei, bulan kelima dalam kalender masehi.
bulan dimana aku merasakan banyak kenangan singkat yang membuatku memahami arti sebenarnya dari sebuah perjuangan cinta.
indah-menyakitkan.

11 Mei 2013 merupakan tanggal dimana aku merasakan indahnya jatuh cinta, dan memulai babak belajar menjalani sebuah hubungan serius dengan seseorang. semua terasa indah. momen-momen bahagia dijalani bersama. saling memperhtaikan saat yang lain sedang sedih, sakit dan butuh perhatian.

tapi 'mei' tak selamanya memberi keindahan. saat aku menunggu momen indah - 2 bulan lagi - hubungan indahku akan genap setahun. 2 bulan lagi sebelum mei datang, semuanya harus berakhir.

aku berjuang mati-matian untuk mempertahankan semuanya, tapi apa mau dikata, saat tepukan itu sudah tak berkawan, maka tak ada jalan lain selain harus dihentikan.

kesedihan itu berakhir, aku menemukan orang yang sejatinya sejak awal mencitaiku, menyayangiku dan tau apa yang aku inginkan dari sebuah hubungan. orang yang sebenarnya sudah mengintaiku hanya saja kami sama-sama menghargai status kami sebagai pasangan orang lain.

bulan Mei, akhirnya aku kembali memutuskan untuk menghubunginya setelah menjaga jarak beberapa bulan dengannya untuk menghindari ketertarikan kami berdua karena putus cintaku sebelumnya. aku sangat berhati-hati dalam memulai hubungan baru agar tidak tersibak kesan sebagai pelampiasan atau pelarian dari kegagalanku sebelumnya.

kuajak dia bertemu di tempat di mana kami pertama kali bertemu, dan malam itu berakhir pada pengakuan-pengakuannya akan betapa sayangnya dia kepadaku, betapa hampa hatinya ketika aku memutuskan untuk memutus kontak dengannya, dan status barunya saat ini sebagai kekasih orang lain.

sakit memang, mengetahui orang yang menyayangi kita akhirnya memutuskan untuk melabuhkan hatinya kepada orang lain karena kecerobohan yang kita perbuat. tapi aku memberanikan diri mengambil konsekuensi itu. kunyatakan cintaku kepadanya, kuarahkan panah asmaraku hanya kepadanya dan mengajaknya untuk menjalani cinta segitiga antara aku, dia dan kekasih pertamanya.

awalnya semua indah, aku sangggup menjalaninya. aku sangggup menerima bahwa hati, waktu dan pikirannya bukan hanya untuk aku. tapi semua terasa semakin berat ketika mantan kekasihnya terdahulu kembali berusaha mencuri perhatiannya. aku sebagai orang yang baru dikenalanya secara otomatis tergusur di posisi ketiga dalam prioritasnya. aku akhirnya takluk dan menyerah. kucabut kembali panah asmaraku dihatinya dan kurelakan dia untuk belajar mencintai orang yang sangat mencintanya, di bulan MEI 2014.


di bulan Mei, sekali lagi aku kehilangan sosok sahabat yang sudah menjadi saudara untukku.
berawal dari perjumpaan kami di Jogjakarta saat aku sedang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh tempatku bekerja saat ini. sahabatku ini juga sedang berada di jogjakarta untuk berlibur bersama teman-temannya dari iteristi dan istrinya. sangat besar keinginanku untuk bertemu istri dari orang yang sudah kuanggap sebagai saudara ini, mengingat aku tidak sempat menghadiri pernikahan mereka selain karena lokasi resepsi yang cukup jauh, aku saat itu sedang menyelesaikan urusan pekerjaan di kota lain.

singkat cerita aku tidak sempat bertemu istrinya karena harus segera kembali ke kota di mana dia bekerja, alhasil aku hanya sempat bertemu dengan sahabatku ini. kuajak dia ketempatku menginap agar bisa mengobrol lebih lama namun karena kami berdua kelelahan, aku lelah seharian di kantor dan dia lelah seharian menikmati indahnya jogjakarta, maka kamipun terlelap setelah tidak banyak bercerita tentang hidup masing-masing.

malapetaka itu bermula saat aku harus meninggalkannya yang masih butuh istirahat untuk ke kantor guna melanjutkan pelatihanku. dia yang kebetulan tidak menggunakan sandal mengabariku untuk meminjam sandalku. aku mengiyakan. namun aku mengira dia akan kembali ke tempatku menginap sebelum pulang ke jakarta setidaknya untuk berpamita. mungkin karena aku terlalu fokus dengan pelatihanku sampai lupa menanyakan hal tersebut hingga saat kembali ke hotel tempatku menginap aku hendak keluar mencari makan malam dan teringat sendalku yang dibawanya. aku langsung menghubunginya untuk mengonfirmasi. mengingat saat itu sudah pukul 18 dan kereta yang mengantarnya sebentar lagi akan bertolak ke jakarta maka tidak banyak yang bisa kulakukan untuk mengambil sendal tersebut. dan dia mengatakan bahwa sendalku sudah dititipkannyake teman-temannya yang akan mengantarkan sendal tersebut ke tempatku menginap.

akupun mengiyakan dan tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, jam demi jam aku menunggu tapi tak kunjung ada yang mengetuk pintu kamarku untuk mengantarkan sandal yang dikatakannya. akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya kembali dan meminta kontak temannya tersebut tetapi tidak mendapatkan respon yang baik darinya

buatku, bukanlah sesuatu yang cerdas mempertaruhkan persahabatan hanya karena sepasang sendal seharga 150 ribu rupiah. tetapi aku hanya menuntuk tanggung jawab darinya. tetapi respon yang kudapat hanyalah pernyataan yang menjurus kepada merendahkan. aku  terus mengonfirmasi kapan sendalku akan diantar. tetapi sampai hari berganti tak kunjung ada kejelasan. sampai akhrinya aku kembali menanyakan dan dengan jawaban yang sangat enteng dia berkata bahwa temannya telah mengirimkan sendal tersebut ke rumahnya di jakarta via titipan kilat.

sesuatu yang sangat di luar nalar menurutku. temannya lebih memilih mengeluarkan biaya dan waktu lebih banyak untuk mengirim sendal tersebut ke jakarta dibandingkan mengantarkan sendal tersebut ke hotel tempatku menginap yang sangat mudah dijangkau dari belahan manapun kota Jogjakarta. aku sedikit marah dan dia pun sepertinya demikian hingga akhirnya kontakku dihapusnya dan sampai saat ini tidak ada komunikasi antara kami berdua.

May - Wonderful Painful Month! thank you for giving me so much lesson...




Senin, 24 Maret 2014

Wan't a Romance, so be Ready. Move On is a Must!

Berawal dari keisengan membuka akun facebook melalui netbuk di kamar kos sewaktu jam istirahat kantor, sampai berujung pada sebuah artikel berbahasa inggris yang di share oleh salah satu teman di facebook.  Sebuah komik pendek, berupa penggalan jalan cerita dalam kotak-kotak kecil yang sarat akan makna mengenai sebuah hubungan. Entah itu persahabatan maupun hubungan asmara.

Kadang kita manusia sangat rela berbetah-betah  diri dalam suatu keadaan yang sangat tidak menguntungkan, menyedihkan, memilukan dan mengiris hati. Sampai-sampai mata kita tertutup untuk hal--hal yang sangat menarik di alam ini. Apalagi sesaat setelah patah hati, dunia serasa hanya berkutat pada anda dan mantan kekasih terkasih anda. Sayapun begitu. 

Pertamakali mengenal asmara di usia 26, dan putus 10 bulan setelahnya. masa yang singkat, tapi sangat penuh makna. Bahkan sampai saat inipun saya masih ingin mengulang jalinan kasih itu dengan sang mantan. Karena perpisahan kami bukanlah sesuatu yang buruk, tapi hubungan kami akhirnya berkesudahan dengan baik dan tanpa pertengkaran yang berarti. Awalnya memang berat, mempertanyakan segalanya, tapi ketika suatu hubungan menemui titik jenuh baik oleh kedua belah pihak maupun salah satunya, maka jalan satu-satunya adalah mengakhiri hubungan tersebut demi kebaikan bersama. Karena jika memang rasa yang pernah dibina diawal perkenalan itu masih ada, maka pasti CINTA ITU TAKAN KEMANA.

Satu hal yang harus terus dipegang teguh adalah, bahwa hidup itu hanya sementara, manfaatkanlah segala  momen dengan bahagia, jangan sampai putus cinta menjadikan diri kita terhindar dari kebahagiaan.

Rabu, 26 Februari 2014

Lupa Rasanya menjadi nomor 1!

Nomor 1.
Semua orang ingin menjadi nomor satu, dalam berbagai hal, dalam berbagai keadaan dan dalam berbagai kondisi. Nomor satu yang biasanya identik dengan urutan tertinggi dari hasil suatu perlombaan menjadi angka yang sangat dielu-elukan. Berbagai upaya akan dilakukan untuk meraih nomor ini. Latihan yang kontinu, persiapan trik dan tips pencapaiannya bahkan sampai kepada trik-trik "kotor" untuk mencapainya.

Nomor satu, banyak orang yang rela kehilangan waktu, tenaga dan sumber daya untuk mencapainya. Lihatlah pada berbagai perlombaan, balap mobil misalnya, semua pabrikan akan merelakan dana besar-besaran untuk merekrut pembalap yang dianggap mampu merepresentasikan pabrikan dalam meraih nomor satu dalam balapan. Ajang pencarian bakat? apalagi. Tak jarang pesertanya rela kehidupan pribadinya diekspos untuk meraih polling tertinggi sehingga tujuan untuk memenangkan lomba semakin terbuka.

Aku, yang dilahirkan pada urutan ke-7 dalam silsilah keluargaku sudah sadar bahwa posisiku bukanlah nomor 1, setidaknya dalam daftar kartu keluarga. Namun, Allah memang selalu adil kepada semua umat-Nya, walau kadangkala sesekali aku masih saja mempertanyakan keadilan tersebut. Aku diberkasih kecerdasan anak rata-rata sehingga selalu bisa menyerap ilmu pengetahuan yang disampaikan para pendidiku lebih cepat dari teman-teman kelasku. Dan nomor 1 menjadi langgananku sejak kelas 1 Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Pun begitu dengan lomba-lomba yang kuikuti dalam rangka mewakili sekolahku baik dikancah regional maupun propinsi. Gelar pembicara terbaik pada debat bahasa inggris, juara pidato,juara paduan suara, juara marawis, juara bola voli, dan juara kelas tentunya.

Rasanya menjadi nomor satu sangatlah luar biasa. Dielu-elukan teman-teman, menjadi kebanggan orang tua, keluarga, guru dan almamater.

Namun, saat ini, di usiaku yang menginjak angka 27, aku mulai lupa bagaimana rasanya menjadi nomor 1. Dalam karir pekerjaanku aku bukanlah siapa-siapa saat ini, jangan nomor 1, nomor 2 pun bahkan sangat mustahil untuk kuraih. Dipercintaan? apalagi.

Punya pasangan rasanya memang indah, ada sosok yang bisa dijadikan sandaran minimal untuk bersenang-senang. Namun, saat diri kita bukanlah prioritas rasanya menjadi rancu. Saat teman-teman dan pekerjaan menjadi hal yang menduduki posisi nomor 1 dipikiran pasangan kita maka rasanya tak terbayangkan. Kecewa? tentu. Tapi itulah resiko hidup kawan.

Saat ini, tujuanku tak lagi menjadi nomor 1 dalam berbagai hal, baik pekerjaan, pertemanan, maupun percintaan. Melainkan melakukan hal-hal yang dilakukan orang-orang nomor satu untuk membahagiakan orang-orang yang sangat layak untuk kita nomor satukan.

"Seseorang kadang tidak mensyukuri keadaannya sekarang karena dia melihat apa yang dia inginkan Bukan melihat apa yang dia dapatkan...."



Senin, 22 April 2013

SMS-mu Harimau-mu

Pernah dengar pepatah "Mulutmu Harimaumu!"
Ya, pepatah yang selalu mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam mengucapakan sebuah pernyataan bahkan sebuah pertanyaan.


Di jaman komunikasi tingkat tinggi seperti sekarang ini, setidaknya orang-orang semakin jarang bertemu tetapi semakin mudah untuk berkomunikasi. Social Media  baik Facebook, twitter, YM, Line, WeChat dan sebagainya merupakan media-media baru yang bersandingan dengan telepon genggam dalam mempermudah dan mempersingkat komunikasi sesama manusia. Namun, layaknya mulut, media-media sosial juga terkadang mendapatkan kritikan saat sang pemilik akun mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang berkenan bagi beberapa pihak. Mulai dari sangsi tidak diajak dalam obrolan (dalam media sosial), akun diunfollow, diblock bahkan sampai diflag.Atau jika anda cukup beruntung menjadi selebritas baik sebagai artis, elit politik, aparat penegak hukum dan anggota parlemen, maka anda akan menjadi bahan pemberitaan berhari-hari di Televisi, koran dan majalah on-line hanya karena statement anda di media sosial.

Menjaga setiap pernyataan yang kita buat merupakan kewajiban yang harus selalu kita pegang teguh beriringan degan hak menyampaikan pendapat yang kita kantongi dari Undang-Undang Dasar negara ini. Statement yang bertanggungjawab, itulah mungkin lebih tepatnya. Namun, menambah kadar kesabaran dan pemikiran positif dari setiap pernyataan yang dilontarkan oleh setiap orang juga merupakan sebuah keharusan, agar kita tidak menjadi sosok yang "sedikit-sedikit" tersinggung.

Akan selalu menjaga dan mempertimbangkan setiap pernyataan yang akan saya lontarkan baik secara lisan, tertulis, maupun lewat SMS menjadi hal yang akan selalu saya ingat sejak saat ini, sejak 2 orang staf yang pulang terlambat ke kantor aku SMS dengan redaksi kalimat yang menurutku wajar namun tidak mengenakkan bagi mereka. Nah, begitulah komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Berawal dari keterlambatan mereka kembali ke kantor, akhirnya aku memutuskan untuk  menanyakan status dan keadaan mereka di lapangan apakah sudah dalam perjalanan atau seperti apa. Namun semuanya membuatku sedikit terkejut karena sampai jam pulang pun (16.30 WIB, red) mereka masih menggarap lahan persawahan milik petani, padahal sejak pagi saat briefing aku sudah mengingatkan mereka untuk setidakna menyelesaikan penggarapan sawah untuk kegiatan demo produk sejak pukul 15.30.

Kapasitasku yang dianggap tidak dan belum mengetahui situasi di lapanganlah yang membuat mereka sepertinya tidak senang dengan redaksi kalimatku yang kurang lebih isinya sebagai berikut ketika mereka menjawab SMS ku dengan jawaban " ini lagi nggarap sawah pak"
" Lhoo, kog bisa?? Bukannya tadi sudah dibilang untuk selesai garap jam 15.30? kalian itu ya mbok kalau ada apa2 kabar2 ke kantor, ini kalian ditinggal aja ya, nanti kalau sudah sampai ke gudang sms saja."
Sampai saat ini saya masih sedikit bingung redaksi kalimat bagian mana yang menyudutkan mereka?
Bukankah wajar jika seorang atasan menunjukan ketegasan kepada bawahan yang jelas-jelas tidak mengindahkan apa yang telah diinstrusikan? apalagi tanpa konfirmasi.



Sore itu memang tidak ada lagi respon lanjutan dari kedua stafku itu, hingga akhirnya ada profokator yang sampai saat itu masih sulit untuk aku atasi yang membuat mereka semakin panas dan akhirnya membawa permasalahan ini ke briefing  pagi keeseokan harinya. Awalanya aku hanya menggap ini sebagai kritik keras atas kepemimpinanku, namun semuanya kurasa semakin keterlaluan dan menyudutkanku ketika ada pihak yang sama sekali tidak punya kapasitas untuk mengomentari apalagi sampai dengan jelas menunjuk namaku dan menyatakan tindakanku itu tidak baik dan tidak sopan.
Akhirnya, hari itu aku memutuskan untuk tidak lagi menanyakan keadaan mereka di lapangan karena aku sama sekali tidak mau dikatakan tidak menghargai kinerja orang di lapangan dan hanya tahu memerintah.

Setidaknya atas kejadian ini aku semakin berhati-hati dalam mengirimkan pesan singkat kepada siapapun.

Sabtu, 13 April 2013

Lonelly,...

Tiba-tiba merasakan kesendirian, bukan, kesepian lebih tepatnya. Masa dimana aku benar-benar sendirian mengisi keseharian di sekeliling orang-orang yang benar-benar baru di daerah yang benar-benar berbeda jauh dengan Jogjakarta, kota di mana kumenempuh pendidikan selama 6 tahun.

Egois memang ketika banyak wajah-wajah baru menyeringai menyimpulkan senyuman di sekitar kita seolah ingin mengabarkan kepada hati kita bahwa kita tak sendiri, kita tetap saja merasa sendiri, sepi, kesepian.

 

Perasaan yang wajar adanya dirasakan oleh mereka yang baru meninggalkan tempat lama yang penuh kenangan, termasuk aku. Jauh dari kedua orang tua nun jauh di sana, meninggalkan keindahan jogja dan kenangan-kenangannya untuk menempuh hidup baru, dunia kerja yang sangat jomplang dengan kesantaian selama menempuh perkuliahan di kota Medan yang budayanya sangatlah bertolak belakang dengan Jogjakarta. Wajah-wajah baru yang menggairahkan semangat untuk menunjukkan kapasitas diriku, keadaan masyarakat sekitar yang 100% beda dengan lingkungan mahasiswa dulu.

Aku, disaat pekerjaan mulai menguras waktuku untuk sejenak beristirahat, masuk kantor setiap senin sampai sabtu dimulai pukul 8.30 sampai 17.00 akhirnya menemukan titik dimana aku butuh tempat untuk bercerita. Sosok untuk berbagi keluh kesah. Awalnya, telepon dan SMS merupakan solusi tersepat dan terealistis yang dapat kulakukan untuk sejenak mengusir rasa kesendirianku ini. Hampir semua daftar nomor telepon di phone book HP ku panggil, namun terkadang hanya berujung deringan yang diakhiri dengan tanda sibuk. Ya, awalnya kumerasa "apa susahnya sih sekedar mengangkat telepon?" namun akhirnya kumenyadari bahwa masing-masing orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri dan kesibukan serta dunia masing-masing. Hanya beberapa panggilan yang berhasil mendapatkan sambutan, walaupun akhirnya aku mengurungkan niat untuk sejenak bercerita dan berbagi keluh kesah karena terkadang tidak semua orang cocok dan mau untuk menampung uneg-uneg dan keluh kesah yang kita miliki. 

Untung buatku, masih ada beberapa teman yang mau dan siap memberi masukan agar aku semakin kuat melalui hari-hari baruku di sini. Walaupun sebenarnya hanya lewat chatting di Facebook atau Yahoo Messenger. Susahnya beradaptasi dengan lingkungan kerja yang jauh dari kata disiplin hingga masalah ketidaksukaan akan cara orang lain menyelesaikan masalah pekerjaan yang justru membuat masalah baru untuk ku. Egois memang ketika aku menyampaikan segala keluh kesahku tentang orang lain dan interaksiku dengan mereka tanpa tahu latar belakang mereka secara detil. Tapi bukankah suatu kewajaran ketika kita berada di suatu lingkungan baru akan timbul perasaan-perasaan susah beradaptasi?

Terkadang aku merasa terlalu banyak mengeluh akan hal-hal yang kulalui dan kualami dalam kehidupanku, tapi itulah aku, manusia yang berkarakter lemah dengan casing yang kokoh ibarat kaum mollusca yang berhasil menyembunyikan betapa rapuhnya sosok sebenarnya dari diri mereka dibalik cangkang yang yang kokoh.


 

Minggu, 10 Maret 2013

Jogja dan Kenangan-kenangan itu!

Pulang ke kotamu,
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Itulah penggalan lagu Kla Project yang tiba-tiba terngiang di benaku di dalam taxi yang melaju tersendat mengantarku kembali ke kosanku dari stasiun tugu jogjakarta melepas rekan-rekan kerja untuk kembali ke Medan yang akan kususul besok.
Jogja, kota yang genap 6 tahun kujadikan pelabuhan seluruh keluh kesah, kebahagiaan, perjalanan cinta dan romansa yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Kota dimana aku akhrinya menemukan arti hidup sebenarnya.. arti mencintai dengan tulus meskipun tak terbalas.. pedihnya patah hati, lelahnya bertepuk sebelah tangan.. indahnya dicintai.. syahdunya belajar mencintai. dan banyak hal yang mungkin saja tidak akan kutemukan jika saat itu - saat menentukan tempat perkuliahan- aku tidak  memilih jogja. Kebetulan yang sangat tidak bisa dilupakan.

Pelajaran hidup penuh makna yang membawaku ke-level baru kedewasaan, pelajaran hidup yang memaksaku untuk belajar menentukan prioritas dalam menghabiskan usia yang merupakan rahmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepadaku. Pelajaran hidup yang sangat tidak ingin aku bagikan kesiapapun. Perjalanan hidup yang sudah melenceng terlalu jauh dari jalur yang seharusnya kulalui. Perjalanan hidup yang membekas buruk dijiwaku. Perjalan hidup yang membuatku jungkir-balik untuk mempertahankan hal yang sama sekali tidak boleh kupertahankan, 

Jogja, kota yang sangat sulit untuk kulupakan mengingat banyak hal buruk yang membekas di balik segelontor kenangan indah yang meliputinya. Miris memang, tapi begitulah adanya. Setiap tapak kakiku membekas mengembara mencari sesuatu yang entah di bagian mana kota ini letaknya. Aku dan jogja ibarat buah kedondong. Keindahan jogja menutupi betapa buruknya perilakuku di 2/3 waktuku yang kulalui di kota ini. Tidak ada yang tahu, bahkan mereka yang mengaku sebagai temankupun tidak tahu, karena aku tidak pernah mau memberitahu siapapun. cukup kupendam sendiri dan jogja menjadi saksinya.

Jogja, suatu saat aku akan kembali lagi dan menggoreskan tinta indah, mencetak tapak indah dan membuat jalur yang indah untuk kehidupanku, karena selama ini engkau telah menyaksikan bagaimana aku menyia-nyiakan waktuku. Aamiin

Kamis, 14 Februari 2013

Get Close to Valentine Day

Valentine Day atau dalam bahasa Indonesianya dikenal sebagai hari kasih sayang merupakan hari yang katanya special yang jatuh pada 14 Februari. Tidak, saya tidak pernah merayakannya sekalipun dalam hidup saya. Bukan karena saya Jomblo seumur hidup, bukan, tapi karena memang saya memutuskan untuk mengikuti apa yang orang paham tentang agama lakukan. Dan Alhamdulillah status Jomblo mendukung itu. Karena mungkin, bisa saja, jika saya tidak jomblo saya akan tergoda untuk ikut-ikutan merayakannya atau minimal si pacar minta untuk ditemani merayakan valentine day dan saya yakin alasan kedua tersebut banyak melanda cowok-cowok di dunia ini yang terpaksa merogoh sakunya setiap tanggal 13 untuk membelikan kado valentine buat ceweknya, atau minimal menraktir makan di tempat yang tidak biasa.

Valentine day dan hari-hari perayaan lainnya yang tidak disyariatkan oleh agamaku, ISLAM, menurutku hanyalah sekedar ritual yang diada-adakan oleh sekelompok orang yang bingung menghabiskan waktu luang dan kelebihan uangnya untuk apa. Jika menilik asal muasal dan sejarah perayaan valentine day yang entah versi yang mana yang harus dipercayai, maka jelas sudah bahwa sebenarnya hari ini bukanlah hari yang patut untuk kita rayakan apalagi dengan cara yang melebihi batas. 

Valentine sebenarnya adalah seorang martir yang karena kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelar Saint atau Santo. Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.
Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, pesta 'supercalis'  kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.
Ada juga yang mengaitkan perayaan Valentine Day sebagai hari dimana jatuhnya kerajaan Islam di Espanyol yang bertepatan denan  tanggal 14 Februar 1492 yang kemudian dirayakan sebagai suatu kejayaan bagi agama nasrani.

Lepas dari unsur agama, saya menganggap merayakan valentine adalah sebuah hal yang memiriskan. Kenapa? Karena orang-orang yang dimabuk asmara akan berupaya sejadi-jadinya untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada pasangannya di hari itu. Tanpa mereka sadari bahwa kasih sayang memang sudah seharusnya kita bagikan dengan indah kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun tanpa terfokus pada satu momen tertentu saja.

Berburu Coklat yang Mahal, Boneka yang bagus, berpakaian dengan nuansa yang sama, bermesra-mesraan di tempat umum, merupakan hal-hal yang akan sangat banyak kita temui di hari perayaan ini, padahal bisa dipastikan 80% atau bahkan lebih dari mereka belum terikat dalam hubungan suami istri yang sah menurut agama dan menurut hukum di negara ini. Bahkan di era social media seperti saat ini, bisa dipastikan isi timeline orang-orang yang dilanda asmara tidak akan jauh-jauh dari yang namanya hari kasih sayang. Mulai dari yang membangga-banggakan betapa bahagianya dia dihadiahi bingkisan yang indah dan mahal oleh kekasihnya, menggerutu karena kekasihnya tidak mengajaknya merayakan valentine, sampai ke orang-orang yang entah dengan motif apa mengucapakan selamat atas hari perayaan yang sama sekali tidak perlu dirayakan ini. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika keponakanku yang sedang bersekolah di kelas 1 SMP dengan polosnya mengirimkan ucapan selamat atas hari ini -_-.

Terlepas dari itu semua, segala hal yang kita lakukan memang akan kembali struk tagihannya ke buku amal kita masing-masing tetapi orang lain akan terciprat bunga tagihannya jika tidak mengingatkan anda akan hal-hal yang baik dan buruk ketika dia telah mengetahuinya. 


So, sebarkan kasih sayang kapanpun, dimanapun, kepada siapapun dan dalam keadaan apapun, bukan hanya di hari Valentine dan hanya kepada Pacar anda yang belum tentu menjadi Pasangan hidup anda!


Senin, 07 Januari 2013

Great 25!

Seperempat abad, itulah usiaku saat ini. Ya, tepatnya 3 hari lagi akan berganti menjadi 1/4 abad +1 tahun. Banyak hal yang menyelimuti dan mengiringi perjalanan usia 1/4 abad ini. Kisah sedih, bahagia, haru bercampur dan bergantian secara berkala mengisi hari-hariku di Jogjakarta.

Tidak ada yang spesial memang. Tapi setidaknya hal-hal yang akan kusebutkan ini telan menjadi batu pijakan bahkan mungkin sandunganku untuk meraih cita-cita dan mimpi-mimpi kehidupanku yang kugantungkan tidak begitu tinggi.

1. Patah Hati
Kekanak-kanakan memang, bahkan kalau orang apatis akan menyebutku labil dalam emosi. Tapi tanpa mengurangi penghargaanku kepada perasaanku sendiri, patah hati tidak ada salahnya bukan? Satu yang perlu diluruskan adalah paradigma orang lain mengenai patah hati yang melulu pada sebab asmara atau hubungan dengan lawan jenis, sampai-sampai mereka mengesampingkan pentingnya hubungan dengan teman, sahabat, kerabat dan keluarga. Patah hati pertamaku di usia 25 tahun adalah ketika kesungguhanku untuk menjali hubungan asmara dengan seseorang kandas hanya karena yang sampai saat inipun tidak kuketahui. Ironis. Hal ini sampai terus membayangiku dalam keseharian. Sehingga aku memutuskan untuk tidak pernah lagi ketempat di mana kejadian menyedihkan dan mengecewakan itu terjadi.

Satu hal yang bisa kupelajari dari hal ini. Tidak semua orang mau mengakui dan menyadari dengan benar akan keadaan ini "Patah Hati". Bahkan ada diantara mereka yang mati-matian menyembunyikan hal ini dari jangkauan orang lain sampai-sampai membuat mereka tidak dapat beranjak jauh dari hal tersebut. Patah hati tidak sememalukan itu kog sob!
 
2. Menyadari siapa kawan dan siapa lawan sebenarnya 
Dalam hidup, semua orang pasti punya teman, bahkan mereka yang anti-sosial sekalipun. Namun, menemukan teman yang sejati, teman yang benar-benar paham siapa diri kita dan siap menerima segala resiko dari pertemanan yang kita jalani sangatlah sulit. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, walaupun warnanya jelas berbeda, tapi tetap sulit untuk menemukan jarum yang berkilau jika terkena cahaya. Begitulah juga dalam mencari teman, apalagi teman hidup :D. 
Jangka waktu yang lama tidak menjadi jaminan bahwa pertemanan itu tergolong sejati. Karena tidak jarang terjadi mereka yang terlihat sangat bahagia dalam pertemanannya berbalik menjadi musuh bebuyutan yang abadi sepanjang masa. Tapi itulah proses hidup man, dan itulah juga proses hidup yang kulalui.
Menemukan siapa sebenarnya sosok yang bisa kupercaya untuk mencurahkan hal-hal yang tidak bisa kubagikan dengan bebas ke sekumpulan teman. Egois memang, tapi begitulah adanya. Kita punya hak untuk menentukan siapa saja yang dapat kita percayai. Perbedaan kultur dan budanya yang membentuk kepribadian serta lokasi yang sangat berbeda membuat aku sulit menemukan sosok ini. Bahkan tak jarang konflik-konflik yang cukup kekanak-kanakan sering terjadi.
Tapi sekarang, di usia 25 tahun akhirnya aku menemukan siapa mereka. dan semoga itu kamu!

3. Menyelesaikan Studi Perkuliahan di Program Studi Statistika, Universitas Gadjah Mada.
Enam tahun, itulah masa studiku yang tercatat di data base UGM. Mulai terdaftar sejak 2006, akhirnya aku bisa membebaskan diri di tahun 2012 dengan proses yang tidak mudah, dan saya yakin tidak ada yang ingin turut merasakan perjuangan yang kualami. 3 kali pendadaran men!. Bukan hal yang patut untuk dibanggakan memang.
Tapi maaf, aku bangga dengan itu semua. Aku bangga bisa melalui 3 kali proses pendadaran dan 5-6 kali pergantian judul Tugas Akhir. Karena dengan ini aku semakin menyadari bahwa yang namanya perjuangan harus istiqomah dan bersungguh-sungguh, Tidak ada satupun halangan dan rintangan hidup yang boleh membuat kita terus terduduk terjatuh.
Sukses adalah hak kita, Hak ku juga. Hak kamu juga. Jika satu kali mencoba dan kamu gagal, maka cobalah untuk kedua kalinya. Jika kedua kali kamu masih gagal, maka cobalah untuk ketiga kalianya dan begitu seterusnya sampai kegagalan bosan menemanimu. dan kamu akan sukses dan bertambah kuat. Itu semua bukan sekedar kata-kata mutiara penyemangat, Tapi itu fakta, dan saya telah membuktikannya.

4. Memperoleh pekerjaan
Ada orang yang bilang bahwa lulus tepat waktu itu tidak penting, yang penting adalah lulus di waktu yang tepat. Dan itulah yang saya alami. Mungkin inilah berkah Allah SWT yang nyata kurasakan sampai saat ini. Tepat 2 hari setelah acara wisuda sarjana aku memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan CV KHS yang merupakan produsen Traktor terbesar di negara ini, walaupun mungkin tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Memang gengsi pekerjaanku saat ini mungkin kalah dari teman-teman lulusan statistika UGM yang lain. Tapi saya senang karena bisa terus menjalani hidup di Yogyakarta yang indah ini yang membuat beberapa teman yang gengsi pekerjaannya tinggi iri. :D

Itulah setidaknya hal-hal besar yang mengisi usia 25 tahunku, dan semoga apa-apa yang telah kulakukan di masa lalu  tidak menjadi penghambatku untuk terus melaju dan mengejar cita-cita hidupku. AAMIIN.


Jumat, 19 Oktober 2012

"Petrichor" The Smells of Relax

Mungkin anda salah satu tipe orang yang gemar menikmati momen-momen di kala hujan turun. Atau mungkin itu hoby? Dan Bagi anda yang kurang menanggapi hujan sebagai satu hal yang indah, maka cobalah berhenti sejenak, sisakan waktu anda untuk menikmati hujan yang mungkin anda anggap sebagai penghambat kinerja anda.

Saat hujan turun adalah momen yang dipercaya sebagian ahli sebagai momen dimana banyak memory indah dalam kehidupan kita kembali tersibak. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”. Bahkan saat hujan juga tak sedikit orang yang mendapatkan berbagai inspirasi.

Petrichor, itulah mungkin hal yang mendukung hal ini terjadi. Petrichor (diucapkan pɛtrɨkər dari petros Yunani “batu” + nanah cairan yang mengalir di pembuluh darah para dewa dalam mitologi Yunani) adalah nama aroma hujan ke bumi yang kering. Istilah ini diciptakan pada tahun 1964 oleh dua peneliti Australia, Bear dan Thomas, untuk sebuah artikel di jurnal Nature. Dalam artikel tersebut , penulis menjelaskan bagaimana bau berasal dari minyak yang dipancarkan oleh tanaman tertentu selama periode kering, lalu diserap oleh tanah liat dan batu berbasis. Selama hujan, minyak dilepaskan ke udara bersama dengan senyawa yang lain, geosmin,  menghasilkan aroma khas.

Petrichor inilah mungkin senyawa atau aroma yang membuat saya rindu dengan turunnya hujan, menikmati momen-momen penuh kenangan. Rasanya tubuh dan pikiran berelaksasi sejenak ketika senyawa dengan aroma khas ini menyeruak dari balik tetesan air hujan yang membasahi bumi. Namun, petrichor tidak selalu muncul begitu hujan turun, mungkin "dia" menunggu momen yang tepat untuk menghampiri indra penciuman setiap insan, termasuk aku, untuk membuai mereka dalam memory yang sulit terhapuskan, atau aku telah melewatkannya?


Benakku sempat bertanya-tanya wewangian apa gerangan yang selalu muncul ketika hujan turun. Dan ternyata dia adalah Petrichor yang bisa membuat pecinta hujan ketagihan menunggu dan menunggu saat-saat dimana petrichor membangkitkan momen-momen indah dalam hidup kita. 

Jadi, mumpung hujan sedang gemar menghampiri hari-hari kita, yuk kita nikmati aroma si Petrichor!

Senin, 15 Oktober 2012

Kerja??!! DILARANG ngantuk!

Rasa kantuk memang selalu berhasil menempatkan kita pada dilema terbesar dalam hidup. Saat kantuk datang tanpa di undang, dengan senang hati kita akan melayaninya dengan syarat tidak ada suatu hal atau aktifitas penting yang wajib kita selesaikan saat kantuk datang. Namun kantuk kadang berlagak sombong dengan tidak mau memenuhi undangan kita di tengah malam saat badan kita terasa sudah remuk dengan aktifitas berat seharian penuh. Segala daya dan upaya kita lakukan untuk menarik perhatiannya, tapi kantuk tak bergeming, hanya insomnia yang setia menemani kita sampai ayam berkokok.
Kantuk kadang datang tak mengenal tempat, waktu, dan keadaan. Dapat dipastikan setiap orang pasti pernah merasa kantuk menggoda jiwa saat kerjaan menumpuk di kantor, saat guru killer sedang menjelaskan rumus-rumus matematika yang menguras nutrisi otak, bahkan saat istri atau suami anda meminta jatah bulanan di tengah malam yang romantis (ehem...). Sayangnya rasa kantuk selalu datang dengan iming-iming yang indah, yang sangat amat susah kita tampik, sampai sering kita kemukan siswa yang ditegur gurunya karena menulis sambil menutup mata, melihat teman sekelas yang dilempari kapur tulis oleh dosen di kampus, bahkan melihat pekerja yang  berleyeh-leyeh ketika pekerjaannya baru separuh jalan sedangkan dateline sudah mepet.

Begitulah yang kurasakan beberapa hari terakhir.
Kegiatan bergelut dengan rasa kantuk yang datang tanpa diundang  di pagi hari dan tidak mau datang walaupun sudah kuundang dengan undangan khusus di 1/3 terakhir malam menjadi ritual wajib yang kulakukan ketika kumemutuskan menerima tawaran mengisi pelatihan olah data bagi dosen-dosen politeknik dari bumi Indonesia bagian timur. 

Rabu, 10 Oktober 2012, seharusnya aku sudah terbangun pukul 7 pagi, tapi apa lacur kantuk baru tangan menghampiriku pukul 4 pagi sehingga mau tidak mau pukul 7 kulewatkan di alam mimpi yang tidak indah pagi ini. Aku akhirnya harus terbangun ketika ada panggilan masuk di handphone ku yang datangnya berasal dari lembaga pelatihan yang menawarkan mengisi pelatihan beberapa hari sebelumnya. Awalnya aku mengira akan mendapat kabar kembira akan cairnya honorku mengajar dan membuat modul SPSS, tapi ternyata tidak. Panggilan yang kemudian kusadari dilakukan pukul 10pagi itu bertujuan tidak lain dan tidak bukan untuk mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari dimana aku harus mengisi pelatihan yang sudah ku-iya-kan sebelumnya. Dengan suara yang diberat-beratkan aku menjawabnya sembari memberi image bahwa aku sedang melakukan sesuatu bukan tidur. Tapi sepertinya aktingku kurang bagus dan si penelepon menyadarinya dan akhirnya mengabarkan bahwa aku bisa memulai pelatihannya pukul 12 siang ini. Alhamdulillah gumamku kemudian menutup telepon dan kembali ke buaian si kantuk.
Jelang siang kuputuskan untuk bangun dan menampankan diri untuk selanjutnya menuju TKP. Pelatihan yang mulanya kuanggap hanya akan berlangsung 2 jam ternyata berlanjut sampai jam 6 sore karena peserta yang sebagian besar ibu-ibu tidak mau acara jalan-jalannya hari jum'at nanti terganggu oleh pelatihan. Alhasil aku harus pulang malam dan langsung terkapar di kasur begitu memasuki kamarku yang berantakan kutinggalkan siang tadi. Oleh karena jarang tidur sebelum pukul 12 malam, akhirnya aku terbangun dari tidur lelahku itu pukul 10 malam, hingga akhirnya kantuk tak datang-datang sampai pukul 5 pagi padahal aku harus bangun sebelum jam 7 untuk mengisi pelatihan lanjutan pukul 8 pagi ini.

Kamis, 11 Oktober 2012, akhirnya kantuk menguasai kesadaranku. Aku terbangun dan menengok ke jam tangan yang kugantung di dinding kamarku, "arghh udah jam 8 pagi" gumamku bergumul dengan rasa kantuk. "Hm... lanjutkan tidur sajalah, lupakan pelatihan itu, toh masih ada trainer lainnya" lanjutku egois kemudian kembali kepelukan gulingku yang terasa hangat. Huimph.... lega rasanya bisa melanjutkan tidur. Ternyata gumamanku tadi tidak berarti apa-apa karena ponsel ku kembali berdering dan tertulis dengan jelas dari siapa panggilan itu berasal. Ya, pihak yang memintaku mengisi pelatihan itu menelepon " Mas gempur jadi ngisi pelatihan hari ini kan?" kata suara wanita di ujung sana. " Jadi mbak" jawabku gelagapan. " Ditunggu ya mas, mulainya jam 8.30, ini sudah di tunggu" lanjutnya dengan sabar. "Oh iya mbak, ini OTW kog" seperti biasa, beralasan On The Way kurasa mampu meredakan suasana. "OK, ditunggu ya mas" tutup suara di ujung sana.

Badanku langsung kupaksa bangkit dan segera meraih handuk yang sejak kemarin belum sempat kujemur yang tergeletak di atas kursi. Aku membasuh badan seadanya, dan mungkin sepertinya aku lupa menggosok gigiku pagi ini. Berpakaian dengan cekatan dan langsung berjalan menuju tempatku menunggu bus seperti biasa. Wow, aku melakukan itu semua hanya dalam 15 menit? rekor buatku!. Untung bagiku, aku tak harus menunggu lama untuk bus yang biasa kugunakan untuk ketempat pelatihan itu datang dan mengantarku ke sana, lebih bersyukurnya lagi adalah sepertinya sopir minibus jurusan Jogja-Kaliurang ini paham betul bahwa ada penumpangnya yang sedang tergesa-gesa sehingga dia tidak mengendarai kendaraannya dengan santai dan mengabaikan tempatnya biasa ngetem.

Jam menunjuk pukul 9.15 ketika aku sampai ke hotel dimana pelatihan itu berlangsung. Oh tidak, aku telat. Langsung ke lantai 2 dimana ruangan berada, masuk ke ruangan yang ternyata pelatihannya sudah di mulai oleh trainer lainnya tapi baru mengecek tugas mandiri yang kami berikan kemarin sebelum sesi pelatihan kami tutup. Aku langsung menuju mejaku, menyalakan netbuk, menyambungkan viewer, kemudian menuju meja yang kulewati ketika masuk ruangan dan mengambil secangkir kopi hangat dan camilan untuk sejenak mengganjal perutku yang ternyata tidak diisi dengan makanan semalam. Dan bisa ditebak, sepanjang pelatihan aku hanya bergumul dengan rasa kantukku, beruntunglah aku hanya kedapatan tugas mengilustrasikan segala petunjuk yang dikatakan oleh rekanku sehingga aku bisa bersantai-santai sejenak, tanpa  harus berdiri mengelilingi ruangan sembari mengerahkan energi memberi penjelasan setiap pembahasan yang ada dalam modul pelatihana yang dibagikan.

Begitulah perjuanganku melawan kantuk beberapa hari ini. Sungguh melelahkan! fiuh

Rabu, 03 Oktober 2012

Hujan Pertama di Akhir Tahun

Rabu, 3 Oktober 2012, pukul 03:09 WIB, rintik hujan mulai menyapa bumi Yogyakarta khususnya daerah sendowo dengan malu-malu.

Pagi ini mataku belum sayu juga setelah beberapa jam berkutat dengan SPSS untuk menyusun ulang Modul Tutorial yang sudah out of date dan menyaksikan pertandingan Liga Champions Eropa antara tuan rumah Benfica dan tamunya Barcelona di ruang TV kos-kosan ku tercinta. Tuan rumah sedang tertinggal 2 gol dari tamunya ketika kuputuskan untuk beranjak ke kamar dan bersiap untuk bermesraan dengan kasurku yang sudah tergelar sejak ku bangun siang tadi. 

Netbuk yang baru beberapa saat kuistrahatkan masih tergeletak acak di atas rak buatan yang menempel di dinding kamarku seolah menggodaku untuk menyentuhnya dan berselancar dengannya di dunia maya. "Hm.. apa salahnya mengecek twitter sejenak dan meng-up date livescore pertandingan Liga Champions lainnya?" gumamku. Kubenarkan juga posisi netbukku yang bertumpukan dengan keyboard dan modul tutorial untuk kemudian kunyalakan. Tanda loading di browser andalan belum berhenti dan dudukku belum "pewe" ketika tiba-tiba telingaku mendengar titikan air berjatuhan di kejauhan. Awalnya ku mengira itu adalah suara air dari bak penampungan kosku yang telah penuh dan mengalir membasahi tanaman rambat di partisi kos kami.  Namun tak terdengar suara mesin pompa air sebagai backsodund titikan air tersebut. Hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali bangkit dari duduk dan menengok keluar, dan ternyata itu tetesan air dari gumpalan awan-awan hujan di langit subuh  yogyakarta.

"Alhamndulillah Hujan" itulah gumamku ketika kuputuskan untuk keluar kamar dan memindahkan jemuran handuk kos yang entah sudah berapa bulan berada di luar.  "Alhamdulillah hujan" itulah kicauan yang kutuliskan beberapa saat setelahnya di akun twitterku yang baru di follow oleh 200an orang. "Alhamdulillah hujan menjadi tag line di twitter dan status-status teman-temanku yang kebetulan masih online di pagi ini, entah itu mereka belum tidur atau baru bangun untuk beribadah qiyamul lail. Hujan yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hujan yang membuat banyak warga santri di madura menggelar shalat hajat meminta hujan. Hujan yang datang untuk pertama kalinya di akhir tahun ini. Hujan yang setia membangkitkan segala memoar indah, mencekam, suram, sedih, bahkan biasa saja setiap insan manusia, termasuk aku.  Hujan yang senantiasa membius dengan dengan petrichor nya.

Kerinduan akan berbagai hal indah dalam hidupku kembali tersingkap oleh hujan pagi ini. Kenangan indah masa kecil di pulau kecil nun jauh di belahan tenggara pulau sulawesi. Hujan selalu saja menghadirkan keceriaan di jiwa-jiwa kecil kami, anak-anak pulau muna. Hujan selalu berhasil menggodaku untuk melanggar larangan ibuku bermain hujan. Hujan yang selalu menjadi katalis berbagai kisah indah bersama teman-teman kecilku. Hujan yang selalu berhasil melenyapkan rasa lelah di kaki-kaki kecil kami  yang bergerak berirama mengelilingi kampung untuk mengajak teman-teman yang patuh kepada ibu-ibu mereka untuk keluar dan bermain bersama di bawah guyuran hujan yang selalu indah bagi jiwa kecil kami.

Hujan juga pernah menjadi saksi kebahagiaan kami siswa-siswi SMA 1 Raha yang berhasil menaklukan soal-soal Ujian Nasional yang dibuat untuk menjerat siswa-siswa kurang rajin belajar untuk tetap bersekolah di tingkatan pendidikan yang menjadi tempat paling dirindukan oleh semua orang di Indonesia. Tak lama setelah pengumuman kelulusan yang menjadi sumber kabahagiaan kami di siarkan lewat TOA sekolah yang terasa mulai enggan meneriaki kami yang suka telat di pagi hari, hujan turun dengan derasnya mengguyur bumi muna, serasa langit ikut terharu bahagia menyaksikan kami anak-anak masa depan bangsa di pulau kecil itu berbahagia. Awalnya seorang siswa yang terkenal badung dari jurusan IPS mendahului kami menyambut datangnya hujan siang itu. Kami yang merasa sudah tidak kecil lagi masih enggan menemaninya menari bersama hujan. Malu. Itulah mungkin yang menjadi sebab kami hanya menontonya menari bersama hujan. Hingga sampai saatnya kami tergoda oleh tarian hujan dan bau kebahagiaan "petrichor" yang tersebar di seluruh halaman sekolah kami, kamipun takluk. Tak ada aba-aba, tak ada persiapan melepas baju sekolah dan sepatu, sebagian besar siswa keluar menyambut hujan dan menari bersama. Konvoi keliling kota dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan menjadi saksi kebahagiaan kami saat itu.

Belum berapa jauh aku menikmati lamunanku, suara hujan di luar sana mulai tak terdengar. hm.. rupanya hujan tidak ingin membawaku terlalu jauh kemasa-masa bahagia yang akan membuaiku. Lamunanku pun berakhir seiring berhentinya hujan pagi ini. Dan hujan pagi yang berdurasi singkat ini menjadi satu-satunya momen hujan hari ini, siang kembali terik, walaupun di sore hari mendung sempat menyapa di langit jogja, namun hujan masih enggan datang lagi.